COMPLICATED - PROLOG
PROLOG
Aidan Barnes
Jika waktu dapat kuulang
kembali dengan mesin waktu, jika Tuhan memberikanku kesempatan, jika waktu
dapat dibeli dengan uang, aku benar-benar ingin mengulangnya. Berapapun
harganya aku akan berusaha untuk menukarnya sekalipun dengan nyawaku.
Sungguh, aku ingin kembali
pada waktu 7 tahun yang lalu untuk mengalami dan ikut terlibat dalam
kebahagiaan yang tak bisa terhapuskan begitu saja. Kejadian 7 tahun lalu seolah
membungkam pemikiranku untuk tidak menatap masa depan.
Masa sekarang.
Hanya ingin terjebak di
dalam masa lalu untuk menarik semua tingkah berengsek yang kulakukan pada
akhinya aku benar-benar menyesal.
Yeah orang memang benar, Penyesalan memang selalu datang di
akhir, bukan?
Bahkan saat ini, saat aku
melihatnya dengan keterbatasan sekalipun, tak sedikitpun aku melupakan masa itu,
semua kejadian yang terekam apik di dalam otakku terputar dengan detail begitu
saja, kombinasi kejadian menyenangkan yang memahami dan mengerti apa yang
namanya jatuh cinta, mengetahui perasaan, merasa ingin melindungi seseorang
yang amat sangat kau hargai. Namun adakalanya aku ingin menghentikan jarum jam
saat itu untuk berhenti dan bertahan pada masa itu. Aku masih melihatnya
membisu dan berharap ini mimpi.
Dan ternyata bukan.
Aku tersadar, aku
benar-benar memasukki dimensi anyar-nyata. Perasaan ini benar-benar menusuk
batinku mencari celah yang dangkal untuk menghancurkannya perlahan, seolah kau
benar-benar terkoyak.
“Kuulang kembali Aidan,
ini sudah hampir 2 bulan dan kau masih mau membiarkannya seperti itu?” Robert
mendesakku untuk memberi jawaban dari pertanyaan monoton yang ia ulang
berkali-kali.
Dan tetap jawabanku tidak.
“Kau tahu persis apa yang
akan kukatakan sekarang bukan?” ucapku menantangnya, berusaha membuatnya mencerna
kalimatku tadi. Dan aku muak saat dia memaksaku untuk mempertahankannya.
Robert menatapku seperti
biasanya dengan kerutan samar di dahi dan helaan napas kasar seolah dia
frustasi dan lelah menghadapiku, dia tahu semua omongannya akan menjadi sia-sia,
dia-pun tahu seberapa keras kepalanya aku ini bila ingin memenangkan hal yang
kuinginkan.
“Aidan, bahkan Eric sudah
pasrah. Keluarganya-pun menginginkan yang terbaik untuk dirinya,” katanya
getir, keterpaksaan untuk berbicara terlihat dari sudut bibirnya yang bergetar
saat mengatakan hal itu kepadaku.
Aku mengepalkan kedua
tanganku bersisian mencoba menetralisir pikiran yang berkecamuk di dalam
otakku, berusaha untuk tidak mendorongnya ke dinding dan memberikan tinjuku
yang siap untuk membunuhnya perlahan saat ini juga. “Aku memang bukan umat yang
taat, tapi aku yakin Tuhan akan memberikan keajaiban. Kau tidak bisa merusak
apa yang kuyakini sekarang-“
“Aku tidak merusaknya,
bukan maksudku Aidan. Dia mengalami cedera trauma di otaknya, hanya mesin-mesin
itu yang menopangnya untuk hidup bahkan jika ada keajaiban-pun pulih dari koma
tidak secepat itu, dia masih harus beradaptasi dengan lingkungannya dan
kemungkinan besar dia akan mendapatkan kecacatan.”
Aku terdiam, tidak bisa
menjawab sepatah katapun dari pernyataan Robert yang membuatku marah. bukan
marah kepadanya, hanya terlebih kepada diriku sendiri. Aku marah kepada keadaan
yang membuatku tampak tak berdaya yang hanya bisa melihatnya tergeletak di
brankarnya. Aku marah karena aku tak bisa menghentikannya untuk pergi melakukan
tugasnya, bahkan aku akan merasa lebih baik menghancurkan karirnya dan
membuatnya membenciku, ketimbang aku harus melihatnya dengan keadaan yang
paling kubenci.
Tanpa menatapnya aku
keluar dari ruangan Robert, sebelum aku memutar knop pintu dia bicara padaku.
“Aidan, besuklah dia
sekarang. Aku tahu dia sangat membutuhkanmu daripada yang lainnya.”
Aku tak membalasnya, hanya
berpikir bahwa omongan kali ini benar.
-0o0-
Walker memiliki peluang
hidup yang lebih besar untuk dijalani, peluang hidup yang membuatnya tampak
sempurna dengan semua langkah yang ia ambil. Termasuk hal ini, hal yang
membuatnya tergeletak tanpa jiwa yang utuh.
Dia rela melakukan hal
apapun untuk sesuatu yang ia hormati dan cintai.
Aku menuju ruang ICU
khusus yang sudah ku sterilkan dengan seluruh anak buahku yang berjaga di
setiap lorongnya, jika dia tahu aku melakukan hal seperti ini dia akan mengira
aku melakukan tindakan sesuatu yang berlebihan, tapi untukku ini adalah suatu
keharusan. Kulapisi seluruh pakaianku menggunakan baju khusus untuk pengunjung
pasien di ruang ICU.
Kugeser sliding door dan berjalan untuk duduk di
kursi, di samping brankar miliknya yang telah tersedia.
Aku memberikan tatapan
menelisik pada semua alat yang dia pakai ditubuhnya sangat komplet, dan
seharusnya semua alat itu dapat membuatnya kembali bangun. Aku lebih memilih
diam dan mendengarkan suara statis dari ventilator yang sangat menganggu
telingaku, sebenarnya.
Wajahnya sangat pucat, aku
bahkan tak yakin apa dia dapat merasakan lapar atau tidak, merasakan haus,
merasakan rasa sakit yang menjalar di tubuhnya saat ini. Rasa sakit. Baginya
obat-obatan yang disuntikan pada tubuhnya bukanlah hal yang perlu dianggap
masalah besar, mungkin suntikan itu hanya sebagian kecil rasa dari saraf nyeri
yang ditimbulkan. Karena satu peluru menembus tubuhnya saja tidak membuatnya
menangis maupun berteriak. Karena dia lebih memilih menatap angkuh pada semua
orang ketimbang menunjukkan ekspresi nyeri.
Aku mencoba menyentuh dan
menyusuri wajahnya yang tidak dipakaikan masker, dan jariku terhenti pada luka
jahitan yang sudah mengering di pipinya. Luka jahitan itu cukup besar bagi
seorang wanita pada umumnya dan mungkin mereka akan menghabiskan seluruh
uangnya hanya untuk operasi plastik dan tampil cantik habis-habisan karena
menurut mereka itu adalah kecacatan yang mutlak.
Tapi menurutku ia tidak.
“Hei. Kau tahu sudah
berapa lama kau tidur tukang tidur.
Jadi, kau lebih suka tidur di brankar ini ketimbang di ranjangmu sendiri? Hmm?
Ayahmu, dia setiap hari kemari, menjengukmu. Dia benar-benar pria yang baik
dengan segala kesibukannya sebagai Kepala Inspektur Kepolisian di Manchester.
Selama 2 bulan terakhir ini dia menyempatkan datang kemari walaupun hanya
berkunjung selama 15 menit.”
“Dan
adikmu, yeah.. Zac, dia semakin dewasa walaupun dia masih SMA, dia sering
kemari untuk menemuimu juga terkadang terhambat karena sekolahnya, tapi dia
selalu mengusahakannya. Kau benar-benar menarik perhatian banyak orang, semua
orang kemari hanya untuk menjengukmu, alih-alih sekadar melihat keadaanmu yang
menurutku sendiri tak ada perubahan yang signifikan, Walker. Semua orang
mencintaimu, dan kau pantas untuk mendapatkannya. Mendapatkan rasa cinta yang
besar dari orang-orang yang dekat denganmu dan mengharmengharapkan kau bangun
dari tidur lelapmu, Walker.”
Kugenggam
tangannya terasa dingin seperti menggengam sebuah manekin. “Aku benar-benar
benci jika harus mengatakan ini, tapi aku harus. Melihat keadaanmu yang seperti
ini setiap harinya membuatku tersiksa. Aku benar-benar sekarat Eloise.”
Komentar
Posting Komentar