COMPLICATED - CHAPTER I

CHAPTER 1
1 Oktober 1999

L
agi-lagi Eloise menghela napas seolah memiliki beban yang berat atau pemikiran tentang utang yang tak terbayarkan. Tapi bukan itu masalahnya. Sekarang ia sedang duduk manis-sopan-sekali di sofa tunggal bermaterial kulit di ruangan berdinding parquet terkesan hangat dengan perapian terletak di tengah ruangan.

“Miss. Walker, kau pasti mengerti jabatan untuk tahun ini?” wanita berusia 30 tahun itu terlihat berusaha memaksa, bahkan dia hampir 5 kali mengulang pertanyaan yang sama.

Fuck. Eloise menarik ujung rok-nya. Ini benar-benar bencana.

“kau tahu kan, aku memilihmu menjadi ketua asrama puteri karena Isobel Stanley tidak bisa melanjutkan tahun terakhir di Almagest, dan kau kandidat yang paling tepat untuk-“

“-Untuk jadi ketua asrama,” dia menghela napas lagi. “Kenapa kau memilihku Mrs. Aillen, kau tahu betul kalau aku pernah membuat onar di awal tahun ketiga,” Mengelak dengan seribu  cara mecari alasan agar ia tidak terpilih.

Berengsek, kalau si Stanley sialan itu tidak pindah karena ikut ayahnya ke Liverpool, dia tidak akan ada disini, dia tidak akan terjebak dengan gurunya di ruangan berjendela besar ini, dia masih bertahan di Almagest sama seperti murid yang lainnya untuk mengikuti dua tahun program tambahan A level’s. Program tambahan yang diadakan oleh kurikulum di Inggris untuk murid yang ingin menempuh pendidikan yang lebih tinggi, untuk berkuliah. Tujuan Eloise mengikuti A level’s untuk mengejar berkuliah di Universitas Cambridge, bukan menjadi Ketua Asrama.

Isobel Stanley cewek cantik berambut pendek berkaki jenjang makanan sehari-hari cowok berotak mesum untuk dijadikan proyek-proyek taruhan kencan murahan. Namun apa daya cowok mesum itu bukannya mendapatkan ciuman gratis dari cewek itu, ini malah kena bogem mentah darinya.

“Eloise Walker, apa kau mendengarku? Daritadi kau hanya menatap ubin.”

Dia tersadar akan suara malaikat pencabut nyawa itu, kemudian menunjukkan senyuman terkikuk sampai Aillen pun menampakkan wajah anehnya lagi.

Mau jadi orang bodoh dia.

“Ini akan menjadi hal yang buruk untuk angkatanku jika aku yang menjadi ketua asrama Mrs. Aillen, maaf sekali lagi aku tak bisa,” katanya dengan wajah sedikit memelas.

Wanita itu menarik napas dalam dan tersenyum miring padanya, “jadi, kau lebih suka jika Bethanny Winston menjadi ketua asrama, hm?”

Tenggorokan Eloise langsung tersekat disaat itu juga, wajahnya berubah memerah, bukan karena bersemu. Tapi dia marah.

Mrs. Aillen bukan dengan tanpa alasan meminta Eloise menjadi Ketua Asrama, dia tahu potensi apa yang ada di dalam gadis itu. Eloise dengan sikap dinginnya, arogan, menyebalkan, dan tidak mau dikalahkan oleh siapapun. Semua mengetahuinya. Terbukti saat dia membuat onar di awal tahun ketiga, menampar dan menarik rambut Bethanny Winston murid perempuan yang lebih menyebalkan ketimbang Eloise, dia selalu membuat anak kelas satu tunduk padanya. Lebih tepatnya menjadi kacungnya.

Mrs. Aillen tidak pernah menginginkan hal itu terjadi sampai tahun terakhir. Baginya bully itu sudah tidak zaman, dan ia tidak ingin jika murid kelas bawah mengikuti karir Bethanny Winston itu.

Dan kata-kata secara tidak sadar keluar dari mulut manisnya.

“Tidak usah repot-repot Mrs. Aillen, aku bersedia menerima jabatan itu.”

-0o0-

Eloise berjalan menuju ruang kafetaria bertemu dengan Jillian yang sudah menunggunya disana dan menyisakan bangku untuknya. Seperti biasanya, rutinitas sehari-hari mereka.

Dia membawa baki penuh dengan makan siang dan duduk disamping Jillian dengan wajah masam, penuh dengan emosi, menatap malas makanan tanpa menyentuhnya sedikitpun.

“Ada apa dengan wajahmu?” Jillian akhirnya membuka suara.

Eloise tidak menoleh sama sekali, “Aku habis dari ruangan Mrs. Aillen.”

Jillian tahu, ia bukanlah tipikal orang yang senang dipanggil oleh salah satu gurunya itu, Eloise tidak menyukai guru manapun yang ada di Sekolah ini, menurutnya semua guru itu sama saja tukang atur, katanya begitu. Dan Eloise bukanlah murid yang tipe siswa yang mendapatkan popularitas karena dekat dengan gurunya, walaupun Jillian dan murid lainnya pun tahu kecerdasan Eloise diatas rata-rata. Hanya saja ia terlalu tidak perduli.

“Lalu, apa semua yang dikatakan wanita itu membuatmu harus tidak memakan makan siang­-mu itu, El? Pengecut sekali.”

Eloise berdecih, ia menatapnya sebal dan menusukkan garpu ke roti lapis itu. “Kau menyebalkan sekali, Jill. Kau mulai jadi tukang atur seperti mereka? Huh.”

Jillian memutar bola matanya, “aku hanya peduli padamu, babe. Berhentilah bersikap menggelikan dan makan makananmu itu. Aku benar-benar tak tahan kalau kau terus merajuk.”

“Aku tidak merajuk. Hanya kesal pada wanita itu seenaknya ia membuatku jadi Ketua Asrama para cewek, kau harusnya tahu, Jill,” dia menelan bulat-bulat roti lapisnya dengan tatapan kesal dan Jillian sendiri dibuat takjub olehnya.

Ia menatap Eloise dengan tatapan tidak dapat dipercaya, seolah omongannya hanyalah omong kosong. “You’re bloody kidding me?”

Dia tidak merespon dan kembali makan, Jillian kesal dan menendang sengaja kakinya. “What the fuck, Jillian” pekiknya nyaring.

“Just, answer my question, bitch”.

Ia menggeram keras, “yeaahhh, i’m not bloddy kidding you, bitch. It’s a fact.”

Jillian menghela napasnya dan masih membuka mulutnya lebar. “Dasar, Aillen sialan.”

“Yeah, Aillen memang sialan.”

Xander. Cowok itu dari kejauhan sudah melambaikan tangan pada mereka berdua, dan tersenyum pada Jillian. Dia tampak rapi dengan seragamnya, mulai dari kemeja yang dimasukkan ke dalam celana, dasi yang sudah tersimpul rapi dan jas yang terkancingkan, tak seperti biasanya mereka melihat Xander yang berpakaian seperti itu. Seolah baru saja kepergok oleh bagian Kesiswaan atau Ketua Asrama yang menindak tentang kedisiplinan cara berseragam. Memikirkan hal seperti itu membuatnya memberikan mimik cemberut yang kentara.

Tak sadar akan kehadiran Xander yang sudah duduk disamping Jillian, dia mengumpat beberapa kali dan mengeluarkan kata-kata kasar yang dianggap biasa oleh mereka. Di mata Xander, dirinya adalah cewek pintar dengan sikap dan tingkah yang buruk pada orang lain kecuali pada temannya-termasuk mereka, entah apa yang membuatnya bertingkah seperti itu. Eloise bukan tipikal cewek yang suka bergerombol dengan para penggosip berbibir dua dan membuat geng para cewek badung untuk menindas adik kelas.

Yeah, Xander tahu dia bukan cewek seperti itu. Walaupun dia mendapatkan predikat buruk di mata murid yang lain karena kejadian lima tahun lalu, tepatnya saat ia menunjukkan aksi heroinnya di depan para murid yang lain saat ada kelas olahraga  di kolam renang, voli air, saat ia menampar pipi mulus milik Bethany. Salahkan dirinya yang membuat Eloise mendadak naik darah dengan semua kelakuan menyebalkan dan kekanakannya yang melempar tampon pada Harrieta Reinhart murid culun tak diinginkan, tak diperdulikan, bahkan mereka ragu akan keberadaannya. Acara mem-bully itu dilakukan saat mereka berada di kamar mandi, Cewek terak itu menghampiri dirinya yang sedang berganti pakaian dan mulai melakukan aksi berengseknya itu.

“El, kau kenapa? Apa kau salah makan hari ini?” Xander bertanya dengan wajah penuh keraguan, dan Jillian memberikan tatapan horror padanya.

Xander hanya menatap balik Jillian dan sesekali melirik Eloise dari ekor matanya. Namun, sekali lagi. Ia menggelengkan kepalanya tidak mengerti apa arti tatapan memeringati dari Jilllian. Dan akhirnya ia menginjak kaki Xander keras.

“Damn! Jillian kau itu kenapa, sih? Lebih tepatnya kalian yang kenapa?”

Jillian menggertakan giginya, “Lupakan, kau masih bisa pindah ke meja lain sebelum aku menendangmu,” Dia langsung mendorong bahu Xander cukup keras untuk terlihat berguncang.

Mereka cukup bodoh atau bisa dibilang terlihat sangat bodoh dimata Eloise dengan kelakuannya saat ini. Jillian adalah tipikal cewek yang selalu menginjak garis aman, dia tahu yang mana orang yang seharusnya dijadikan teman dan yang mana yang bukan, bukan juga berteman dengan seseorang hanya karena popularitasnya, mereka berteman memang adanya pertemanan yang tulus. Jillian sangat dekat dengan dirinya sudah lama saat mereka sama-sama kelas satu, masih menjadi ABG konyol yang takut-takut akan kelakuan kakak kelas yang mendirikan geng populer-terkenal dengan penindasannya untuk para freshman. Jill adalah teman terdekat sekaligus sahabat baik untuknya.

Berbeda dengan Xander, Eloise mengenalnya baru-baru ini di akhir kelas 12 karena dia adalah pacar baru Jillian dan teman klub berkuda di Almagest. Xander memang terlihat baik dan tidak banyak menuntut dalam hal apapun pada Jill, dia bukanlah tipikal cowok menyebalkan tapi dia masih sama seperti cowok-cowok pada umumnya, melakukan tindakan konyol seperti menggoda cewek-cewek dengan rok diatas lutut tanpa stocking hitam, mengejek guru yang tidak pernah mereka sukai dengan komplotannya. Yeah, Xander berkomplot dengan anak-anak dari tim Rugby. Kesannya membuat ia terlihat lebih hidup dan berwarna dengan semua kelakuan bodohnya itu.

Dia masih menumpukan dagu di atas meja dan menatap mereka berdua yang sedang saling adu mulut, seolah memikirkan hal lain tentang mereka. Eloise memikirkan Xander sedang menunggang kuda bersama Jillian, memacu kuda itu dengan cepat sampai pada akhirnya mereka jatuh ke dalam sungai.

Lamunan bodoh Eloise lainnya.

Hal itu membuat senyuman Eloise terbit di wajahnya, dan seketika Xander yang sekilas meliriknya pun menghentikan adu mulutnya itu dengan Jillian.

“Aku benci ketika kau menatapku seperti itu, El,” ujar Xander yang langsung membuyarkan pikiran liarnya.

Ia tersenyum tipis, dan berlagak tak melakukan apapun, merubah posisi duduknya menjadi tegak dan mulai melipat kedua tangannya untuk bersedekap, “Aku merasa tak melakukan kesalahan apapun, Xander.”

Xander menggelengkan kepala beberapa kali dan menunjukkan raut wajah penasaran , dan Jillian sontak menatapnya aneh, “Kau tersenyum saat melihatku, aku yakin.”

Eloise memutar bola matanya, ia menatap malas. “Aku tidak tersenyum padamu.”

Dia melirik ke arah Jillian, lalu kembali pada Eloise dan memberikan senyuman menggoda, “Kau menyukaiku?” Katanya, dengan nada yang sedikit dibuat-buat.

Jillian tertawa dengan keras, dia tahu pacarnya itu sedang menggoda El. Menurutnya Eloise butuh hiburan hari ini, terlebih lagi karena baru keluar dari kandang singa, setidaknya dari Xander.

“Kau sangat menjijikan,” ia mendengus jijik, menanggapi candaannya. Mulai menikmati percakapan ini.

Xander memainkan garpu plastik, membuat lingkaran abstrak di atas nampannya. “Kau tahu, aku bisa membaca pikiranmu yang berpikir kalau aku itu lebih tampan dari Kellan. Tapi, maaf saja El. Aku lebih memilih si pirang di sampingku ini,” katanya penuh dengan percaya diri.

Jillian, entah keberapa kalinya ia disuapi oleh perkataan gombal dari mulut cowok berambut hitam itu, dia masih bisa bersemu dan mengulum senyum seolah baru pertama kali digombali seperti itu.

“Ahh… terserahlah, terserah apa katamu. Dan kau seharusnya melihat kalau Jill bersemu. Aku tidak mengerti kenapa kalian berpacaran? Lebih tepatnya,” Eloise melirik Jillian, “mengizinkan kau berpacaran dengan cowok seperti itu.” Dia menghela napasnya, menatap mereka secara bergantian.

“Karena aku menyukainya, suka pada cowok bodoh ini.” Jillian akhirnya berbicara, omongannya terkesan tulus, sesuatu yang diucapkan berasal dari hati.

Karena aku menyukainya, temannya itu memiliki hati yang sangat tulus, dia memberi pengakuan dengan sebenar-benarnya tanpa ada hal yang berlebihan walaupun omongannya sedikit main-main pada kata cowok bodoh ini. Ia berpikir perasaan Jillian benar-benar nyata, sesuatu hal yang konkret pada Xander. Karena ia baru melihat Jillian seperti ini, seperti merasakan kasmaran padanya berulang kali, padahal mereka sudah berpacaran hampir 6 bulan.

Jillian tahu El tidak akan mungkin menjawab apapun padanya, setelah dia mengatakan hal itu. Dia berusaha mencari topik lain, “Dimana Kellan? Sepertinya seharian ini aku tidak melihatnya.”

Eloise mengangkat bahunya, menatapnya acuh. “Aku tak tahu, biarlah, lagi pula ia bukan bocah lagi yang harus ku ingatkan untuk makan siang.”

“Tapi dia pacarmu, El. Setidaknya kau beri dia sedikit perhatian, ketimbang tidak sama sekali.”

Dia malas, baginya pacaran itu bukan untuk saling berkirim pesan teks yang isinya tidak terlalu penting seperti saling meningatkan untuk makan. Karena makan adalah hal yang utama bagi setiap manusia jadi ia yakin, cowoknya itu akan makan saat ia lapar, lagi pula mereka satu Sekolah dan setiap harinya bertemu-pastinya di Ruang makan Asrama dan Kafetaria. Bertemu dengannya hanya untuk membahas tentang pelajaran atau sedikit basa-basi atau bermesraan. Lagi pula ia dan Kellan termasuk orang yang sibuk pada klub yang ia tekuni saat ini. Ia dengan klub berkudanya dan Kellan dengan klub Hockey.

“Aku pacarnya, bukan ibunya. Lagi pula dia sudah terlalu besar untuk ku ingatkan untuk makan siang.”

Sebelum Xander memotong pembicaraannya, ia sudah bicara lagi. “Dan berhenti menghawatirkan hubunganku dengannya, Xander. Aku yakin ini yang kita inginkan.” Dia mengambil napas dalam untuk melanjutkan perkataannya, tapi saat dia membuka mulutnya ia menutupnya kembali. Seolah menelan kembali omongan yang mengandung kekesalan yang jika Eloise melanjukannya lagi akan berujung pada omong kosong, dan mengeluarkan kata-kata kasar. Dan ia tahu bahwa Xander tak akan pernah mengakhiri percakapan ini.

Jillian mengernyitkan dahi dan memberikan tatapan pada Xander sebaiknya-kau-akhiri-saja-pembicaraan-bodoh-ini-sebelum-El-memakanmu-hidup-hidup, seakan mengerti isyarat yang Jill berikan ia langsung tutup mulut, dan memilih diam.

Okay Xander pilihanmu sangat bijak hari ini.

Eloise meraih gelas karton yang berisikan minuman jus jeruknya di atas meja dan meminumnya sekaligus, pada saat itu juga dia mendengar pengeras suara dinyalakan yang sumbernya berasal dari ruangan wanita itu. Wanita yang menjatuhkan pilihan yang sulit sehingga membuatnya tak bisa mengelak atas pilihannya.

Suara ketukkan mikrofon beberapa kali, dan ia akhirnya suara dari sumbernya berbicara, membuat Eloise menahan napas untuk sejenak. “Selamat siang murid-murid, bisakah aku meminta perhatian sebentar ” ada jeda pada kalimatnya, seperti cenayang, wanita sumber suara sepertinya tahu belum ada satupun murid yang benar-benar mendengarkannya dengan baik, masih mengobrol bahkan bercanda dengan komplotannya bahkan ada yang benar-benar acuh pada suara itu. Eloise masih dengan posisinya menahan gelas karton pada mulutnya seolah minumannya masih banyak padahal sudah habis, sesekali ia melirik para murid dari balik bulu matanya, berharap bahwa kali ini tidak ada yang mendengarkan kalimat wanita itu, ingin menutup kedua telinganya pun El tidak bisa karena ia yakin itu akan menarik perhatian seluruh penghuni kafetaria. Jadi, ia memutuskan tetap pada posisi itu, setidaknya sampai pengumuman sialan itu berhenti.


Guys, bisakah kalian mendengarkanku sebentar atau kalian lebih memilih mendekam di Almagest pada sabtu dan minggu untuk menjalani detensi tujuh angkatan?” Dia bertanya dengan nada sedikit main-main dan penuh ancaman.

Beberapa murid mengeluarkan umpatan kasar, lihat saja Francis O’Neal, raut wajahnya mulai kesal kedua tangannya terkepal kemudian ia menaiki meja kafetaria dan berdiri ditengah. Semua murid yang ada di kafetaria ini melihatnya-memerhatikannya seolah ia berusa menarik perhatian mereka semua dengan caranya itu. Cowok yang ingin selalu terlihat tenar dengan caranya, begitu kata Eloise.

Cowok itu menaikkan kerah bajunya dan melonggarkan dasinya lalu ia menyedekapkan kedua tangannya sambil mengetuk-ngetuk kaki kirinya bergaya so keren di depan mereka semua.

“Hei, kalian semua! Berhentilah menjadi sosok orang berengsek pada umumnya, setidaknya kalian tutup mulut untuk sedetik saja, hanya untuk mendengarkan ocehan Nyonya-Medusa. Karena aku tidak ingin repot-repot untuk menghabiskan 2 malam penuh di bangunan kuno ini, apalagi menyeret bokongku untuk membersihkan asrama itu. Jadi, seperti yang kusuruh tutup mulut kalian bajingan.”

Dia banyak omong, dan aku membencinya.

Sontak semua terdiam, merasa semua itu sebuah aba-aba Mrs. Aillen melanjutkan kalimatnya, “Karena ini periode baru, maka aku harus mengumumkan siapa dari kalian yang beruntung terpilih menjadi pasangan ketua Asrama dan ketua Archon. Jadi, untuk murid terpilih yang kutemui tadi harap berkumpul di auditorium untuk kukenalkan kepada para siswa. Sekian dan terima kasih.”

Suara itu menghilang, dan mereka terdengar membicarakan tentang siapa yang akan menjadi Ketua Asrama, sebagian dari mereka berharap bahwa salah satu temannya yang terpilih, untuk meringankan mereka dari lusinan detensi.

“Aku tidak yakin kalau Cecillia Hodges akan menjadi Ketua Asrama cewek periode sekarang.” Ujar cewek yang duduk disebrang meja Eloise.

Cewek satunya mengaduk isi ransel dan menemukan sebuah tas kecil dan mengambil sisir, “Tidak juga, dia bisa menjadi kandidatnya karena dia pintar.”

Dengan cepat dia menggeleng, “Kau tidak berpikir kalau Eloise Walker bisa menjadi kandidatnya bukan?” Katanya hampir berbisik takut-takut jika cewek itu mendengarnya, menurutnya itu sebuah bisikkan. Namun, menurut Eloise sendiri itu bukan sebuah bisikkan, itu lebih menuju berteriak atau menyuarakannya dengan keras. Sampai-sampai ia tersedak dan menjatuhkan gelas karton yang ia tahan dari mulutnya barusan.

Jatuhnya tidak membuat kesan suara terlalu besar, hanya air muka Jillian yang berubah seakan ia tahu apa yang dipikirkan oleh El sekarang.

“Sekali lagi, Aillen wanita sialan.”

-0o0-

Setelah acara penobatan resmi disahkannya pasangan Ketua Asrama dan Ketua Archon di depan hampir semua para murid yang hampir-mati penasaran di dalam auditorium, banyak dari mereka yang mengumpat, menghela napas berat, ataupun tersenyum karena teman mereka yang terpilih. Terlalu banyak emosi dan mungkin saja euforia pemilihan Ketua sialan itu akan berlangsung lama.

Dan sekarang Eloise yang masih duduk di tepi ranjang memangku kedua tangannya dipaha dan tatapannya masih bertumpu pada sebuah lencana berwarna keemasan dengan lambang Almagest berbentuk segitiga dengan lengkungan di tiap tepinya, terdapat sebuah konstelasi Nebula Orion dan konstelasi Big Dipper, terletak di sisi kiri dan kanannya dan ditengah terdapat buku terbuka dengan peta dunia di tengahnya. Dengan motto khas dari sekolah mereka Et Ipsa Scientia Potestas Est, yang artinya sendiri adalah Pengetahuan adalah Kekuatan. Lencana itu merupakan lambang yang mempunyai makna yang hebat dalam ilmu pengetahuan. Almagest sendiri oleh pendiri yayasan diambil dari bentuk latin dalam bahasa arab yang artinya buku besar. Sumber terpenting mengenai informasi Astronomi Yunani kuno.

“Apa kau berniat membuangnya?” Tanya Jillian yang sudah berganti pakaian dengan piyama dan sudah merebahkan diri ke ranjang di sebelah dengan posisi menghadap langit-lanngit.

Merasa kembali pada dunianya, Ia langsung menoleh pada Jillian dan menaikkan sebelah alis. “Apa maksudmu?”

Jillian mengarahkan telunjuknya pada lencana itu, dan Eloise mengerti maksudnya apa.

Dia menatapnya horror, “Jangan gila, aku tidak sesinting itu untuk membuang lencana sebagus ini, hanya karena aku ingin mengundurkan diri sebagai Ketua Asrama”

Ia langsung berdiri, menghadap nakas dan menyimpan lencana itu disebuah kotak kayu dengan ukiran cantik ditepiannya. Kemudian ia berbalik lagi menghadap Jillian, menunggu ia memberi jawaban.

Namun cewek itu hanya mengedikkan bahu dan kembali fokus pada ponselnya. Eloise mengabaikannya tidak jadi menunggu Jill untuk berbicara lagi, dia langsung menyambar piyama dan menggantinya di bilik kecil.

“Omong-omong dari mana kau bisa mendapatkan ponsel itu?” Tanya Eloise sedikit penasaran.

Jillian melihat siluet dirinya kesulitan mengeluarkan kepalanya dari sweater yang ia kenakan, ia sedikit tertawa. “Ayahku yang membelikannya untukku, sehingga ia tidak perlu repot untuk berkirim pesan melalui pager lagi, katanya begitu. Dan satu hal, El. Aku rasa kau harus berhenti mengeluarkan kepalamu dengan cara seperti itu.”

“Ohh, Yeah? Benar juga. Sepertinya aku harus membeli nokia, Jill bisakah kau kemari dan bantu aku-“

Tanpa ia pinta, Jillian sudah ada di hadapannya dan mencoba mengeluarkan kepala Eloise, yang sedikit demi sedikit mulai terlihat. Dan dengan satu tarikan ia berhasil mengeluarkan kepalanya dari sweater itu secara paksa.

Mereka saling bertukar pandangan dan mulai tertawa, mulai menertawakan situasi bodoh tadi dan banyak hal, menertawakan dirinya sendiri dan menertawakan hidup ini. Semua keluh kesah mereka tertawakan sampai pada akhirnya mereka menghentikan tawa itu.

Berhenti, karena tidak ada lagi yang harus ditertawakan.

Eloise langsung memakai kaus berlengan panjang, berjalan kemudian berbaring di atas ranjang dengan selimut yang hampir menutupi kepalanya. “Tidak seharusnya aku memakai sweater sialan kecil itu lagi, Jill.” Katanya merutuk dibalik selimut.

Jillian mendengus geli, masih fokus pada ponselnya untuk berkirim pesan teks dengan Xander. “Tidak, bukan sweaternya yang kekecilan, El. Tapi kepalamu yang kebesaran.” Dia segera mematikan lampu nakas dan menenggelamkan diri bersama selimut.

“Brengsek kau, Snowy sialan.”

-0o0-

Kellan menghampirinya saat sarapan pagi di ruang makan, tersenyum miring, kebiasaan menggoda para cewek tak ada yang berubah-lalu menyimpan nampan dan memberi kecupan singkat di pipi Eloise.

Tak ada semu kemerahan di pipinya seperti cewek yang merasa kasmaran, menurutnya ini sebuah kebiasaan yang dilakukan oleh orang yang berpacaran.

Seperti tidak ada yang keberatan dengan hal ini para murid yang melihat dan melirik, mereka hanya diam dan melanjutkan sarapan.

Dia kemudian duduk disamping cewek itu,”Selamat, babe. Kau menjadi Ketua Asrama.” Dia terkekeh, “Kuharap kau tidak memberikanku detensi yang berlebihan.” Lanjutnya lagi kemudian menyuapkan roti lapis berisi daging asap ke mulutnya.

Eloise memutar bola mata, menengok ke arah Kellan dan menumpukan kepalanya pada tangan kanannya. “Kau akan kuberikan detensi ekstra, aku benar-benar tidak sabar untuk melihatmu membersihkan seluruh kamar mandi sekolah.”

Matanya menyipit, dan mulai menunjukkan lagi sederetan gigi putihnya. “Tanpa baju? Aku akan melakukannya tanpa baju jika kau yang mengawasiku, bukan David.” Mulai menyentuh dagu Eloise dengan ibu jari dan telunjuknya.

Menahan kekehan dari mulutnya, ia mengulum senyum dan membuka mulut, “Kau berutang itu padaku.” Katanya tanpa suara yang membuat Kellan mengecup pipinya lagi.

“Bisakah, kalian tidak melakukan hal bermesraan di ruang makan,” Kata Jillian.

Kellan mengedikkan bahu, “Apa itu mengganggumu, Snowy? Kau bisa menggunakan lemari kebersihan untuk bermesraan, jika itu yang kau maksud.”

Jillian memberengut menatapnya jijik, “Ew, itu benar-benar sangat menjijikan, Kellan.” Dia meraih gelas berisi air dan meminumnya sekaligus lalu menyimpannya kembali. “Dan kemana saja kau kemarin saat El benar-benar setengah sinting saat dipanggil ke ruangan Aillen. Apa kau sedang berciuman dengan salah satu cewek pemandu sorak itu?”

Tak ada kecemburuan ataupun hal yang ganjal di hati Eloise, yang ia dengar barusan tidak membuatnya marah. Jika cewek pada umumnya mendengar kalimat barusan mungkin, akan membuatnya menginterogasi habis-habisan Kellan dengan beribu pertanyaan bodoh apa benar kau berciuman dengannya? Atau Jadi, Kau tidak ada di kafetaria kemarin, kau sedang berciuman dengan cewek nakal? Atau pertanyaan bodoh lainnya, dan akan membuat mood mereka turun saat Kellan menjawab tidak, aku tidak mencium siapapun. Atau mana mungkin, temanmu saja yang senang bergosip.

Ingin rasanya ia sendiri menanyakan hal itu pada Kellan, tapi mulutnya tidak mau. Seolah itu hal yang tabu untuk ia tanyakan, padahal itu hal yang wajar jika diselingi dengan gurauan darinya.

Ini payah, benar-benar payah. Ia sudah pacaran dengan Kellan Rutherford hampir 7 bulan dan tidak ada satupun hal yang membuatnya cemburu, padahal cowoknya itu dekat sekali dan digosipkan dengan beberapa pemandu sorak ber-rok mini.

Ini memuakkan.

“Eloise, hei. Kau okay?” Kellan menepuk pipinya pelan.

Dia tersadar, kembali lagi pada bumi yang memanggil. Bukan tersadar karena sentuhan dari cowok itu, tapi karena bel berbunyi yang menandakan bahwa sarapan telah selesai dan masuk kelas.

Dia tersenyum kaku, dan melepaskan tangan Kellan yang masih menyentuh pipinya. “Sebaiknya kita masuk kelas,” Eloise berdiri dan mencangklongkan ranselnya di satu bahu kemudian pergi.

Kellan melihat punggung Eloise berjalan cepat seolah menghindarinya keluar menuju pintu ruang makan.

Ia benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi pada pacarnya itu.



Komentar