COMPLICATED - CHAPTER 2

CHAPTER 2
4 Oktober 1999

Eloise Walker

A
ku masih ingat saat hari dimana ibuku dikebumikan, hari itu tepat sekali sehari sebelum aku berulang tahun yang ke 16, tepatnya di bulan Agustus. Cuaca musim panas yang tidak seterik matahari di Hawai, setidaknya bisa membakar kulitmu bila tidak mengoleskan lotion tabir surya pada kulitmu. Menurutku, itu tidak sepanas biasanya, udara cuaca panas itu mendadak berubah menjadi udara di musim gugur yang dingin dengan adanya hujan yang mengiringi kematian ibuku sekaligus kesedihan Dad, aku dan Zac.

Hari itu aku sama sekali tidak keluar kamar, aku terlalu banyak menghabiskan waktu di ruangan itu dengan menangis. Menangis sejadi-jadinya, yang membuat ayahku khawatir padaku, mungkin dia berpikir aku akan bunuh diri, kebanyakan orang tua akan berpikiran negatif ketika anaknya dalam kondisi terpuruk. Itu termasuk kepedulian yang ayahku tunjukkan. Namun, aku tidak akan melakukan hal itu, aku mungkin sedang sedih dan merasa hancur karena ibuku. Mum adalah tukang atur yang paling hebat, bisa mengatur 3 orang sekaligus penghuni rumah, memang dia tidak sehebat Mrs. Aillen bisa mengatur siswa seisi Sekolah, tapi Mum takkan bisa dibantah oleh satu patah katapun. Aku adalah orang yang menganggap Mum bukan hanya sekadar ibu, dia bisa menjadi berbagai macam sosok yang aku butuhkan. Tidak seperti Dad yang sibuk dengan pekerjaannya selayaknya tugas ayah pada umumnya, karena hal itulah yang membuatku lebih dekat dengan Mum ketimbang Dad.

Menerima kenyataan bahwa Mum meninggal merupakan hal tersulit yang kualami, dadaku benar-benar terasa sesak dan aku merasa bahwa sebagian dari diriku hilang. Tapi, sekarang aku mencoba untuk bangkit karena aku yakin, Mum membenciku jika aku terus terpuruk.

Bukan itu masalahnya, memikirkan hubunganku dengan Kellan justru masalahnya. Cowok itu benar-benar baik padaku dalam semua hal, selalu bersikap manis, terkecuali rasa ingin tahu dan emosi yang berlebihan. Berpacaran dengannya mungkin bukan sebuah kesalahan, itu lebih ke kejadian yang tidak terduga, ini karena pesta perayaan hari Valentine, dimana aku dan Kellan adalah teman kecilku berdansa di pesta itu beberapa putaran. Lalu kita saling mengobrol malam itu dan pada hari berikutnya ia berbicara tentang ketertarikannya padaku dan pada hari berikutnya kami berpacaran.

Entah apa yang membuatku memutuskan untuk berpacaran dengannya tapi aku harap aku tidak menyesal atas keputusanku itu, aku hanya berharap kalau aku bisa menyukainya lebih dari sekadar teman, seperti seorang cewek yang benar-benar merasakan jatuh cinta.

“Walker, apa kita bisa melakukan tugas hari ini?” David Costner, pasanganku di tahun ini menatapku dengan keraaguan, mengacungkan ibu jarinya mengarahkannya ke arah depanku.

Aku mendesah pelan, “Yeah,” aku mengangguk. “Kita bisa mulai, Costner.” Aku menengadah tersenyum padanya.

Dia mengangguk dan berjalan beriringan bersamaku, dia membukakan pintu utama asrama yang menghubungkan dengan jalan keluar menuju gedung Sekolah. Sebenarnya pekerjaan menjadi Ketua Asrama itu merupakan hal yang merepotkan untukku, karena aku tidak begitu menyukai pekerjaan yang lebih mirip petugas keamanan sekaligus merangkap seorang kesiswaan. Tugas kami mulai dari memberikan detensi, menuliskan pelanggaran yang mereka lakukan yang tidak mematuhi aturan tertuis maupun tidak. Dan berpatroli setidaknya selama sejam pada pukul 23.00 sampai pukul 00.00, cukup 2 kali dalam seminggu. Jadi, aku meragukan akan fungsi petugas keamanan, kalau berpatroli saja harus aku yang melakukan.

Sungguh tata tertib dan aturan yang sangat menyebalkan.

Kami berjalan beriringan tanpa percakapan sama sekali, rasanya sangatlah canggung. Sebenarnya, aku ingin berbicara lebih dulu, tapi saat aku ingin menyuarakannya dari isi kepalaku mulut terkutuk ini langsung tersendat begitu saja. Pertanyaan yang ingin kutanyakan saat ini adalah kenapa kau mau menjadi Ketua Asrama, cukup singkat, memang. Hanya saja aku berpikiran bahwa dia akan menganggap sosokku itu adalah seseorang yang cerewet dan serba ingin-tahu.

Tak terasa kami sudah hampir berada di dalam gedung Sekolah dengan tangga besar yang menjulang didepanku, aku harap ia bertanya atau berkata sesuatu apapun yang membuat kita seperti rekan yang sesungguhnya.

“Walker,” panggilnya.

Bingo! Dia mengajak bicara duluan.

Aku menengadah menatapnya tersenyum lagi, “Yeah?”

Dia mengerutkan dahinya, terllihat seperti berpikir. Aku merasa ia akan memberikan soal yang sulit, “Kau mau kita berpencar atau bersama-sama-“ Costner menaikkan senternya untuk menerangi sudut di koridor dekat pintu perpustakaan.

“Bersama-sama,” kataku spontan, dan ia melengkungkan alisnya dan aku tidak mengerti apa maksud dari ekspresinya barusan.

Aku menutup mulut dengan satu tanganku dengan spontan-lagi, “maksudku, bagaimana cara kita saling menghubungi jika kita tak punya alat komunikasi seperti.. seperti walkie talkie misalnya. Atau kau lebih suka kita berpencar? Jika itu yang kau mau, maka baiklah. Kau mau pilih atas atau bawah?” Astaga aku berbicara dalam satu tarikan napas sekaligus, aku lebih terlihat komat-kamit dibandingkan berbicara.

Dan kuurungkan niatku untuk melihat David lagi, karena aku malu, tak bisa membayangkan ekspresinya seperti apa saat melihatku tadi.

Dia tertawa pelan, aku mulai berani untuk menatapnya lagi, dia masih tertawa dan itu membuatku kesal. “Kau tahu, kukira seorang Eloise Walker tidak akan berbicara sebanyak itu dalam satu tarikan napas.”

Aku menghela napas, “Aku hanya.. hanya berusaha untuk tidak terlihat bodoh didepanmu, karena kau rekanku sekarang. Dan aku ingin terlihat lebih bersahabat-mungkin.” Aku menggigit bibir bawahku, mengikutinya yang mulai memimpin jalan menyusuri koridor sekolah di lantai dua.

Kami mulai menyenteri semua kaca yang menempel di kusen pintu setiap kelas yang di lewati, “Ternyata kau tidak semenyebalkan yang orang lain katakan. Kau sosok yang menyenangkan, Eloise. Bagaimana? Rasanya seorang teman itu memanggil nama depan mereka bukan?” Tanyanya.

David Costner memang ramah dan tampan dengan kacamata yang membingkai matanya itu, seperti kata orang kebanyakan. Baru kali ini aku dekat dengannya-mengobrol dengan jarak sedekat ini. David memang temanku tapi kami jarang mengobrol seperti teman lainnya, jarang ada interaksi diantara kami terkecuali membicarakan tentang tugas kelas. Karena yang kutahu kami baru sekelas di tahun ini. Di tahun terakhirku bersekolah.

Aku mengulum senyum, dan meninju bahunya pelan menunjukkan padanya bahwa aku menerima tawaran atas pertemanannya itu. “Boleh juga, David atau Dave?”

Dia terkekeh geli, “Hanya David, tidak Dave. Nama Dave terkesan kalau aku itu gay.

Aku langsung memelototinya, tertawa dengannya sambil berjalan menyenterkan pada pintu-pintu lainnya yang kami lewati.

-0o0-

Kami sudah memutari hampir seluruh gedung sekolah sialan ini, kecuali kafetaria, yeah kurasa ruangan itu yang harus kami periksa terakhir. Dan aku lapar.

Aku merapatkan kancing di mantelku, “Bagaimana jika kita periksa kafetaria, mungkin ada pengunjung liar malam ini.” Aku berjalan menuju ruangan yang dipenuhi kaca tersebut.

Dia mendengus, “Konyol sekali, El. Kau kira siapa yang akan mengunjungi tempat itu malam-malam jika di asrama mereka punya ruang makan yang ukurannya lebih besar, Eloise.”

Aku mendengar derap langkah kaki yang mengikutiku dari belakang, “Aku, bodoh. Sekarang berikan kuncinya.” Aku mengulurkan telapak tanganku dan dia merogoh saku jeans-nya untuk memberikanku kunci.

Kumasukkan kunci itu ke lubang kunci dan ketika aku memutarnya, mendorong pintu kaca itu hingga setengahnya terbuka, aku melihat siluet berpasangan sedang bermesraan di atas meja makan. David, dia hanya diam terpaku melihat tontonan gratis dihadapannya itu dengan wajah yang tak bisa ditebak.

Dan aku selaku cewek yang masih waras memutari cowok itu mencari sakelar didinding merabanya, dan saat aku menekan sakelarnya, secara otomatis lampu neon dengan daya tinggi menyala dengan terang membuat pasangan konyol sekaligus mesum itu membelakakan matanya dan pandangannya mencari tahu siapa yang menyalakan lampu itu.

Aku bersedekap dengan badan tegak di depan mereka berdua. Senang rasanya melihat mereka tertangkap basah bermesraan di ruangan ini.

Aku menyeringai mereka berdua, “Apa kalian akan tetap seperti itu, atau menghampiriku menjelaskan apa yang terjadi kali ini, hm?”

Cewek itu, dia melepaskan pelukannya dan langsung menghampiriku dengan ekspresi yang kesal-ingin-memakanku-hidup-hidup. Ternyata dia Daniella the damn bitch. Dia berkacak pinggang dan aku membalasnya dengan memutar bola mata ditambah menatapnya semengerikan mungkin.

“Aku akan menuliskan apa yang terjadi diantara kalian disini, untuk kulaporkan besok pagi kepada Mrs. Aillen.” Aku menggoyangkan sebuah buku catatan kecil ke udara, mempermainkannya.

Wajahnya berubah panik, berusaha terlihat rapih dengan mengikat kuncir kuda rambutnya. Tapi percuma dia melakukan itu, menurutku itu tindakan yang sia-sia.

“Kenapa kau ada disini?” Pertanyaan idiot.

Aku tertawa-menertawakan dirinya, “Aku tidak mengerti mengapa ada cewek se-tolol kau di sekolah ini.” Aku mencopot lencana yang kupasang tadi di dada sebelah kananku dan mengarahkan tepat ke depan wajahnya.

Dia terlihat jengkel dan menggeram cukup keras, dia membalikkan badan untuk menghadap cowok itu. “Aidan!” Pekiknya, “Semua gara-gara kau. Aku membencimu.”

Jadi, dia Aidan itu. Wajahnya tidak terlalu familier, seperti aku jarang menemuinya di Almagest. Atau karena aku jarang bergaul jadi aku jarang melihatnya, benar. Baru kali ini aku benar-benar bertemu dengan cowok itu. Dan aku tidak ingat sama sekali.

Cowok itu menatapku dengan tatapan super tajam dengan matanya yang kelam di balik bahu Daniella seperti dia tidak terima dengan penindakanku barusan. Dan aku merasa terintimidasi. Aku memalingkan wajah dan menghadap David yang masih berdiri di belakangku.

“Aidan.” Wajahnya sumringah, dia menyapanya seolah baru bertemu teman lama dan saling temu kangen.

Cowok yang namanya Aidan itu memberikan senyuman sangat tipis pada David, “Tak kusangka di akhir tahun, ternyata kau yang terpilih menjadi Ketua Asrama bodoh itu.”

David terkekeh, “Yeah, dan lihat sekarang kau benar-benar kembali.” Dia mematikan senter dan menyelipkan ke belakang celananya.

Aku jengkel, ini bukan waktunya untuk acara reuni. Aku berkacak pinggang membalikkan badanku untuk menghadap David dan menengadah, “Kau tahu, kan? Dia terkena detensi karena melanggar jam malam. Dan ada di kafetaria bermesraan,” Kutekankan suara pada akhir kalimat.

Dia terlihat menimbang-nimbang memilih menyelamatkan teman bodohnya itu atau rekannya aku. “Aku tahu,” Katanya padaku. “Sorry, Aidan. Aku sedang bekerja malam ini, dan kau kepergok bersama Daniella.”

Bagus, aku tidak jadi menendang bokongnya kalau begini.

Dia melirikku dan kembali menatap David, “Lakukan pekerjaanmu, David. Aku tak masalah.” Aidan, dia seperti meremehkan pelaporanku barusan.

Aku angkat bicara, “Tenang saja, kalian akan kulaporkan secara diam-diam pada Mrs. Aillen. Dan tak akan ada yang tahu kenapa kalian berdua diberikan detensi, jadi tak perlu takut, okay?”

Daniella membelalak, tak suka melihatku berkata seperti itu. Tapi aku tak perduli, dia bukan temanku. Sama sekali bukan. “Kau tidak bisa melaporkanku, Walker!” Cewek itu memekik lagi. Lama-lama aku bisa jadi tuli.

Aku menghela napas, melangkahkan kaki sampai di depan pintu kaca dan membukanya, memberi isyarat untuk mereka semua keluar. “Berhentilah berteriak seperti itu, kau sangat berisik. Sebaiknya kalian semua keluar, aku dan David akan mengunci pintu ini.”

Daniella yang keluar lebih dulu dia menghentakkan kakinya sangat keras sehingga aku bisa mendengar gema langkah kakinya. Dan Aidan, dia terlihat tersenyum meremehkan-merendahkan dengan wajahnya yang super angkuh. Dia berjalan pelan melewatiku. Tunggu, sebelum ia melewatiku dia menolehkan pandangan untuk melihatku, dia memberikan tatapan penghinaan.

Aku menghela napas berat, berusaha mencerna semua hal pada hari ini.

-0o0-

Pagi ini aku duduk di bangku ruang makan bersama Jillian.
Pagi ini seperti biasa Kellan duduk di sampingku, dan bertanya tentang hal kemarin dan aku mengabaikannya.
Pagi ini ada sesuatu yang berbeda di sebrang meja kami, aku melihat cowok itu lagi. Bedanya ia memakai seragam lengkap dengan kemeja putih dan dasi yang tergantungkan tanpa simpul dan jas sekolah yang kukira ia sampirkan di sebelah bangkunya.

Aidan, dia terlihat sedang mengobrol dan tertawa dengan teman-temannya yang kutahu tiga perempat dari mereka yang berkerumun di meja itu semuanya adalah anggota tim Rugby dan seperempat seperti Joe yang kukira dia hanya antek-anteknya cowok itu.

Aku kembali menatap Jillian, ia terlihat sibuk dengan rambut pirangnya berusaha menjalin rambutnya dengan satu tangan sedangkan tangan yang lain menyuapkan sendok penuh makanan ke dalam mulutnya.

“Siapa cowok itu?” Tanyaku, lebih ke bertanya pada diriku sendiri.

“Apa maksudmu dengan siapa cowok itu, El.” Kellan yang menjawab, dia mencondongkan tutubuhnya untuk lebih dekat denganku.

Aku menatap Kellan, sembari menyuapkan sesendok panekuk ke dalam mulut. “Yeah, itu.” Aku menyentakkan kepalaku ke arah meja sebrang, “Aku baru melihat cowok itu.”

Mata Kellan menyipit mengamati lekat-lekat siapa yang kumaksdukan, air mukanya berubah menatapku malas. “Oh. Dia Aidan Barnes.”

“Aidan Barnes? Dimana ia sekarang?” Jillian ikut nimbrung dalam percakapan kami, sepertinya dia tahu sekali tentang cowok yang kumaksud.

Matanya menyapu seisi ruangan dan ia menemukan Aidan, bola matanya membulat membesar. Dia menutup mulut dengan satu tangan secara mendramatisir, “Oh Tuhan. Dia benar-benar kembali, kukira dia akan tetap tinggal di Italia.”

Italia? Apa dia pernah bersekolah disini? Rasanya aku tak perlu mengetahuinya, itu bukan urusanku. Sama sekali bukan.

“Eloise Walker. Cowok itu kapten Tim Rugby setiap ada pertandingan dia selalu kembali dari Itali ke Birmingham hanya untuk mewakili tim. Dan ia pernah bersekolah disini hanya sampai tahun ke dua, dan tentu saja kau tidak mengenalinya karena kau terlalu tidak perduli dengan orang-orang disekitarmu, El. Padahal ia lumayan sering kemari.”

Ingin aku memalingkan wajah untuk melihatnya lagi, tapi semakin menahan diri untuk tidak melihat ke sebrang sana, malah semakin aku untuk mencuri pandang ke arahnya. Hanya karena penasaran, ingin memastikan apa aku pernah melihatnya di Sekolah ini.

Seseorang tinggi menjulang berdiri di sampingku, dia menggebrak meja dengan kesal. Dia bisa mengalihkan para siswa yang sedang makan untuk melihat ke arah mejaku. “Kau masih berani makan di ruang makan? Bisakah kau tidak mengangguku dan teman-temanku?”

Another one, the damn bitch. Bethany Winston.

Kellan sontak langsung berdiri menghalangiku dan di depan Bethany, “Kau yang aneh, Kenapa kau menghampiri meja kami lalu marah-marah? Apa kau gila?”

“Berhentilah melindungi pacar bodohmu itu, aku mau bicara dengannya bukan denganmu Rutherford.” Dia berjalan melewati Kellan dan bahunya menabrak lengannya.

Dia berdiri didepanku sekarang dengan semua emosi yang aku sendiri tidak mengerti, aku tak suka terlihat terintimidasi dan merasa inferior. Aku berdiri menatapnya dengan tatapan penuh kebencian. “Aku butuh bicara denganmu,” Katanya tegas.

Kellan, wajahnya begitu gusar dia menatapku mempertanyakan semuanya, yang akupun tidak tahu harus menjawab apa. aku membalas tatapannya dengan senyuman. Dan Jillian dia segera menghampiriku mengitari meja dan berdiri disampingku.

Aku masih diam, menunggu ia berbicara. Murid kelas satu mungkin mereka berpikiran ini akan menjadi perkelahian, karena mereka tahu siapa si Bethany Winston itu. Dan mereka tidak tahu kalau aku Eloise Walker, cewek yang pernah menjambak dan menampar si terak itu.

“Apa yang kau lakukan pada temanku, sehingga ia mendapatkan detensi dari Mrs. Aillen.” Katanya menyalak.

Aku memutar bola mataku, “Detensi? Benarkah Jumat kemarin total ada sekitar 10 siswa yang mendapat detensi, dan kenapa kau menganggap mereka semua teman-temanmu?”

Dia menggeram kesal, dan aku menikmati pemandangan ini. “Bukan! Apa kau bodoh! Tentu saja Daniella, siapa lagi?”

Ahh… si Shepard-kejadian jumat malam di kafetaria

Aku terkekeh mencari tahu kalau cewek itu sedang bersama komplotannya dari balik bahu Bethany, dan ternyata tidak ada.

“Jika kau mencarinya dan merasa bersalah karena kau memberikannya detensi, maka urungkan. Karena dia tak ada disini, dia demam ada di dalam asrama. Semua gara-gara kesombonganmu itu!”

Aku menelan ludah, otaknya benar-benar dangkal. Dia tidak tahu apapun tapi dia sudah langsung menuduhku dengan mulutnya itu, “Kukira, dia tidak akan banyak omong tentang detensi itu. Ternyata dia membongkarnya sendiri, padahal aku mau berbaik hati untuk tidak membahasnya, apalagi membuat para penggosip mendengarkan-“

“Sudah cukup! Aku tahu apa yang kau lakukan Walker! Kau benar-benar picik, kau jahat sekali memanfaatkan ketidakberdayaan Daniella memberinya detensi tak beralasan karena kau membenciku. Kau dendam padaku, apa sih yang kau inginkan sekarang setelah mendapatkan segalanya, Walker. Kenapa kau masih berpura-pura sok baik di depan semua orang dan berusaha menjadi pemimpin padahal kenyataannya-”

Dia begitu banyak omong semua orang menatapku dengan keterkejutan, dan aku tak ingin membuat semua salah paham lagi denganku. aku tidak ingin diam dan seolah hal ini bukan masalah besar. Ini memang bukan masalah besar, tapi ini menyangkut semua hal yang ada di dalam diriku di mata mereka semua. Harga diri. Kewibawaan. Dan aku benci kalau mereka selalu menganggapku sebelah mata.

“Cukup!” Kataku lantang, “Cukup Winston!” Aku menghela napasku, memilah kata-kata yang tepat untuk berbicara dengannya. “Kau, tidak tahu apa-apa tentang jumat malam dimana aku hanya menuliskan pelanggaran dan memberinya detensi.”

Aku melihat ia hendak membuka mulut, tapi aku langsung memotongnya. “Dengarkan aku sialan. Aku tidak memberikannya hukuman, tapi Mrs. Aillen lah yang menghukumnya. Aku hanya memberikan daftar itu. Dan sebaiknya kau jaga mulutmu itu, berhentilah berpikiran dangkal karena aku hanya melakukan tugasku sebagai Ketua Asrama. Dan satu hal yang perlu kau ketahui pada jumat malam bukan hanya Daniella yang terkena detensi tapi Barnes. Yeah, Aidan Barnes juga.”

Air mukanya menampakkan keterkejutan yang sangat kentara, “Dan aku tidak perlu memberitahumu kenapa cewek dan cowok melanggar jam malam bukan? Karena sebenarnya bisa kau simpulkan sendiri apa yang mereka lakukan, karena aku tidak akan memberitahunya, karena aku sendiri tidak yakin. Biarkan mereka yang mengaku di depan Mrs. Aillen. Karena aku tak pernah mengurusi apa yang bukan urusanku, Winston.”

Aku mendesah pelan, tak perduli lagi apa yang akan mereka pikirkan tentangku. Aku hanya merasa lega karena bisa mengatakan bahwa dia selalu salah dalam menilaiku, semua orang yang tak punya otak salah menilaiku terutama di tempat yang menurutku lebih mirip tempat penyiksaan ketimbang ruang makan.

Aku membalikkan badan, Jillian menatapku dengan penuh senyuman yang merasa bangga karena aku bisa melakukan hal itu lagi. Dia menepuk pundakku dan berjalan menyusulku, semua orang di ruangan ini memerhatikanku dengan intens, seperti biasanya aku mulai tidak perduli dengan mereka. Langkah kakiku terhenti saat Francis O’Neal bersiul dengan keras dan bertepuk tangan dengan meriah, dan sontak semua murid mengikuti orang bodoh itu, mereka semua bertepuk tangan tanpa ada alasan yang jelas. Riuh tepukan tangan mengiringiku sampai ke pintu besar.

Aku menggigit bibir bawahku, dan berdiri membalikkan badan menyapukan pandanganku pada mereka semua. Mengangkat daguku keatas berusaha menghiraukan tepuk tangan yang masih bergema. “Berhenti!”

Sialan mereka tidak berhenti, “Kubilang berhenti!” Aku berteriak, dan mereka berhenti.

Tak pernah kusangka.

Aku melirik jam di tangan, “karena lima menit lagi bel berbunyi, selesaikan sarapan kalian dan masuk kelas masing-masing. Dan berhenti berbuat onar, khususnya untukmu, O’Neal.”

Tak perduli bila ia mengacungkan jari tengah padaku, aku membalikkan badan dan berjalan lagi bersama Jillian yang disampingku keluar dari ruangan sialan itu.

Dan aku mulai suka pekerjaan ini, menjadi tukang atur.

-0o0-

Aidan Barnes

Cewek yang bernama Eloise itu, dia keluar dari ruangan ini berjalan menjauh sampai ia berbelok lalu menghilang. Aku tak tahu banyak tentangnya, tapi sejauh ini aku merasa jarang melihat cewek itu, atau mungkin aku hanya lupa. Pertama kali bertemu dengannya di kafetaria malam itu, pandanganku langsung terpaku pada sepasang mata berwarna cokelat, tapi warna matanya yang membuatku tertarik tidak memiliki warna seumum itu. Itu bukan cokelat.

Melainkan warna amber, warna sepasang mata manusia yang jarang ditemukan oleh orang pada umumnya. Warna mata yang biasa dimiliki oleh serigala. Dia cewek pertama yang berani memberikanku detensi, raut wajahnya saat menatapku memberikan sebuah ketegasan untuk tak meremehkan dirinya. Dia tipikal cewek seperti yang lainnya, semua yang ia pikirkan mudah ditebak dengan sekali melihat raut wajahnya.

Cukup membosankan, tidak ada yang menarik.

“Whoa, kau pasti tidak ingat dengan Walker, bukan?” Joe menepuk bahuku, dia meraih gelas minumanku.

Aku menoleh ke arah Joe, menelaah maksudnya tadi. “Walker?” Tanyaku.

Dia mengangguk mantap, “Eloise Walker, dia atlet pacuan kuda tingkat Nasional. Wajar kau jarang melihatnya dia jarang bergaul dengan orang-orang sepertiku. Dia benar-benar hot.

“Tentu saja di hot, man. Apalagi saat ia memakai pakaian berkuda yang super ketat di tubuhnya. Dan melihatnya berkuda dengan kecepatan penuh.” Travis menambahkan, dagunya ia tumpu di atas meja dengan satu tangan seolah sedang menerawang tentang cewek itu.

Aku menggeleng lalu berdiri dan mencangklongkan ransel di satu bahu, kemudian mengambil jas ku yang tersampir di atas bangku. “Tidak. Aku tidak tahu tentangnya dan tidak perduli kurasa.”

Joe melakukan hal yang sama denganku, dia mengedikkan bahu. “Yang benar saja.” Dia mendesah seolah kecewa dengan pilihanku, “kau benar-benar tidak tertarik padanya. Menurutku dia menarik-sangat menarik. Dia juga lumayan.” Joe menaik turunkan alisnya menampakkan seringai culas miliknya, dan aku tahu dia berusaha menjahiliku.

Aku berjalan sembari memainkan ponselku, yang sebenarnya tidak penting, ini hanya untuk mengalihkan pembicaraan. “Aku tetap tidak tertarik untuk bermesraan dengan cewek itu apalagi tidur dengannya.”

Dia mendengus, ada jeda pendek diantara kami sebelum Joe bicara lagi. “Ahhh,” dia membuka mulutnya. “Apa yang ia lakukan padamu, Aidan?”

Aku meliriknya, “Apa maksudmu?”

Dia tertawa keras, menutup mulut dengan satu tangan dan tawanya berhenti. “Kau tahu, biasanya kalau aku menceritakan tentang cewek yang memiliki ketertarikan yang begitu kuat seperti Walker. Kau pasti akan langsung berburu pada saat itu juga mate, dan kau sekarang berbeda.”

Aku memutar bola mata, menatapnya acuh. “Langsung pada intinya, Calvaro.”

Dia terkekeh, menelan ludah. “Yeah, kau pasti punya masalah dengan cewek itu. Jika bukan kau yang mencari masalah berarti dia yang duluan.”

Aku mendengus memikirkan betapa jalangnya cewek itu saat memberikan detensi dengan ekspresi yang menjijikan.

“Dia benar-benar mencari masalah denganmu, Aidan? Jumat malam bukan? Saat kau dengan Daniella snogging?”  Dia menebak mengacuhkan keenggananku.

Aku menyipitkan mata, malas mendengar cacian dari Joe si mulut besar. Aku hanya diam dan tak menjawab sepatah katapun, berusaha mengacuhkan Joe.

Dia diam untuk beberapa detik sebelum terbahak dengan keras.

For God sake! Aidan! Kau benar-benar payah! Kau harus membalasnya.”
Aku tidak membalasnya, membiarkan Joe terbahak lagi dengan tindakanku yang begitu pengecut, membiarkanku ditindas oleh cewek yang sama sekali tidak mengenalku dengan baik, atau dia memang tidak pernah mengenalku sebelumnya. Jadi, kemungkinan besar karena dia tidak mengenalku maka dia bisa menindasku kapan saja.

Tapi maaf saja Nona, cukup sekali aku ditindas oleh cewek itu. Hari pembalasan akan menunggu.

Kami sudah ada di gedung Sekolah, jarak dari asrama menuju gedung Sekolah hanya sekitar 50 meter. Hanya ruang kelas yang aku tidak tahu, Almagest sudah dipugar terlihat jelas dari tangga selamat datang yang menyambutku sudah dirubah menjadi lebih lebar dengan pegangan tangga dibuat terlihat sedikit lebih melengkung. Tak terasa sudah empat tahun aku meninggalkan Almagest walaupun aku kemari beberapa kali untuk tim Rugby tapi, begitu banyak perubahan kecil dari Sekolah tua ini walaupun tidak signifikan.

Joe menahan lenganku, dia langsung menaruh ranselnya dilantai dan merogoh semua isi ransel lalu ia mengeluarkan sebuah buku kecil bertuliskan buku kesiswaan. Dia membuka buku hanya melewati bagian tidak penting dan terhenti di satu halaman. “Aidan, aku harap kita sekelas.” Pohonnya.

Dengan spontan aku langsung membuka buku yang sama dengan Joe di dalam ranselku dan membuka halaman yang dia maksudkan tadi. Aku mengangguk sekali, “Dalam hitungan ketiga.”

“Satu.” Aku memberi aba-aba.

“Tiga.” Joe melangkahi, dan kami langsung serentak membuka buku itu lebar-lebar.

“Bagaimana?” Joe bertanya sembari menutup matanya, akhir-akhir ini dia sangat menjijikan. Semua tingkah Joe.

Aku menyikut rusuknya, dan dia memekik saat bersamaan melihat kelas kami.

“Berengsek!” Dia langsung melemparkan buku itu.

Aku terkekeh melihat kelakuan Joe yang konyol sekaligus menjijikan, “Jadi, kita tidak sekelas.”

“Dia wanita terkutuk, bisa-bisanya Aillen  memisahkan aku dan kau mate. Biasanya kita selalu sekelas dalam semua mata pelajaran dan sekarang tak ada satupun.” Dia menendang udara kosong, tatapannya masih terpaku pada buku yang ia lempar di pojokkan sana.

Aku mengangkat kedua bahu dan langsung menyambar ranselku yang masih ada di lantai, tapi tidak mencangklongkannya dan berjalan menaikki tangga untuk sampai ke lantai dua. “Kurasa ia mulai sakit kepala dengan keadaan sekolah ini ditambah denganmu yang selalu bergerombol dengan si O’Neal.”

Dia menggelengkan kepala, bibirnya cemberut. “Hanya dua tahun aku sekelas dengannya dan tidak ada kejadian apapun yang membuat Almagest  menjadi turun pamor.”

Aku menghela napas, berjalan menemui belokkan untuk menemui pertigaan dimana kelasku pagi ini. Aku menepuk pundak Joe, “Sebaiknya kau mencari sekutu untuk menghabisi Aillen, sebelum ia mengambil alih Almagest, Joe.” Kemudian langkahku berhenti di depan pintu kelas.

Dia menyeringai dan mengangguk sekali, “Kau benar juga, aku harus mengajak O’Neal lagi dan…. Dan cewek cantik.” Matanya berbinar saat mengatakan cewek cantik, seakan menemukan sepeti batangan emas.

Aku tertawa, “Cewek cantik?”

Dia meninju bahuku malu-malu, “Kau tahukan? Si Walker.”

Aku mendesah, Astaga cewek itu lagi. Dia benar-benar terkena demam cewek arogan itu.

Kemudian Joe melihat jam tangannya, ektespresi wajahnya penuh dengan keterkejutan kemudian ia lari terburu-buru sampai ujung koridor sebelum ia berbelok, ia berhenti dan membalikkan badan untuk menatapku. “Aidan! Kau tahu hari ini adalah latihan pertama tim Rugby di tahun terakhir kita bersekolah sekaligus kau kembali. Kau harus datang sebelum aku menyeret bokongmu itu!” dia berteriak.

Aku terkekeh dan balas berteriak, “Yeah. Hanya bangunkan aku di atap!”

Tanpa membalas omonganku tadi, Joe langsung berlari lagi. Kemudian aku memutar kenop pintu, sebelum aku mendorongnya aku mendengar teriakkan Joe dengan jelas.

Fucking Bloody hell! Mata pelajaran pertama yang mengajar si Medusa!”

Seseorang dari dalam ruangan langsung mendorong pintu, membuatku agak terkejut. “Mr. Barnes, kau masih mau disini? Atau kau mau masuk? Sekarang sudah pukul 9 lewat 15 menit.” Aku menahan tawaku, penampilan Mr. Leincester tetap sama seperti dulu tidak ada perubahan dari mulai kumis tebal seperti mafia Itali, kacamata tebal dengan tali pengikat di tiap ujungnya, sepatu hitam mengkilap yang ia pakai tanpa noda, terkecuali satu. Rambutnya, dia memiliki rambut lebih banyak ketimbang yang kulihat kali terakhir

Aku menatapnya lalu mengangguk, kemudian ia memberikan ruang untukku masuk ke kelas. Seperti biasa halnya para guru mereka akan cukup banyak berbasa-basi memperkenalkanku kepada mereka semua 20 kepala di depanku semua.

Ketika aku mengedarkan pandangan ke semua tempat di ruangan ini, berharap Mr. Leincester menghentikan khotbah panjangnya. Aku menemukan cewek itu lagi dengan rambut panjang cokelat tua bergelombang yang terurai tertiup angin karena jendela disamping kiriku dibiarkan terbuka. Dia kelihatan acuh sekali tak memerhatikan khotbah guru ini, tatapannya memang kedepan tapi matanya berusaha menghindar dari arah depan.

Aku melirik kursi kosong disebelah cewek itu, dan aku tidak pernah berharap untuk mendudukinya. Percuma tidak ada lagi kursi. Sialan.

“Mr. Barnes, duduklah di samping bangku Eloise Walker.” Katanya menyuruhku.

Aku menoleh, mendengar dia berkata Mr. Barnes duduklah disamping bangku si arogan. “Yeah?” Tanyaku pongo.

Dia menghela napas, “Duduk dibangku baris ke tiga urutan ke tiga.”

Cewek dipojok sana menahan tawanya, aku meliriknya dengan tatapan keji dan ia menatap takut-takut.

Dan aku melihat Walkerpun memberikan tampang keterkejutannya melihatku sekarang berjalan kearahnya, saat aku melihatnya berusaha memberikan tatapan menindas, ia membuang muka dan berdecih.

Aku terkekeh dan langsung duduk dibangku, meliriknya sekilas. Sepersekian detik mata kami berserobok. “Salam kenal, Walker.” Kataku dingin, dan itu membuatnya jengkel.





Komentar