COMPLICATED - CHAPTER 4
CHAPTER 4
24 November 1999
Eloise
Walker
E
|
loise!”
“Eloise
Ramona Walker!” Aunty Georgi berteriak lagi, segera aku turun ke bawah menuruni
tangga menghampirinya yang sekarang terlihat sibuk dengan ayam kalkun yang
sedang ia beri bumbu di atas konter. Seperti biasanya ia akan memakai celemek
berwarna oranye cerah dengan bordir bunga-bunga yang sangat besar memenuhi
celah kosong pada celemek itu. Saat Aunty memasak ia selalu memutar musik dubstep dari boombox kesayangannya. Aku tahu ini sedikit aneh, keluarga kami
merayakan hari Thanksgiving padahal kami warga Inggirs. Kata Mum ini sudah
tradisi sejak ia kecil, jadi nikmati saja. Lagi pula aku tidak keberatan
memakan ayam kalkun.
Dia
menari-nari menggoyangkan pinggulnya menikmati lagu Backstreet boys sembari memotong-motong sayuran di atas konter,
terlihat sangat lihai seakan melihat koki profesional alih-alih amatiran
didepanku, membuatku tertawa.
Dulu
saat Mum masih hidup, aku merayakan Thanksgiving di rumah, bersama dengan Aunty
Georgie, Uncle Philip dan kedua sepupuku, Simon dan Scott. Tapi sekarang aku
harus merayakannya disini, bukan hal yang buruk memang. Tapi Dad jarang ikut
merayakannya, karena ia seorang Polisi, kesibukannya menyita waktu untuk
menghabiskan waktu bersamaku dan Zac.
Aku
masihlah ABG ingusan yang masih ingin bersama ayahnya di kala waktu senggang
seperti ini, aku harap Dad akan lebih lama meluangkan waktunya, setidaknya
untuk Zac yang harusnya menjadi prioritas utamanya. Adiku itu masih berumur
sepuluh, jadi wajar saja jika ia mengharapkan ayahnya disini. Dihari ini.
“Apa
yang kau lihat, El?” Aunty berkacak pinggang dan memainkan spatula di satu
tangannya.
Aku
tersenyum penuh harap, “Apakah Dad akan pulang hari ini?
Dia
mengerutkan dahi, terlihat berpikir menimbang-nimbang atas jawaban yang akan ia
berikan. Padahal aku sudah tahu jawabannya, tapi aku tahu Aunty bukanlah orang
jahat yang akan memupuskan harapan seseorang.
Dia
mengangkat bahunya, “Jangan bertanya padaku young
girl, lebih baik kau telepon saja dia.”
Aunty
kembali memasak, meraih bumbu dapur yang ada di atas lemari kemudian menyalakan
kompor dan menumis kentang. “Kurasa, aku sudah tahu jawabannya, Aunty.” Kataku
pelan.
Dia
berhenti, mengangkat spatula keudara dan menyorongkannya ke arahku seraya
tangan kirinya berkacak pinggang. “Tidak, kau harus memastikannya dulu, nona.
Sekiranya itu tidak akan membuatmu penasaran.”
Aku
menghela napas, sedikit jengkel, namun perkataannya barusan ada benarnya atau
mungkin sangatlah benar. Dia masih menatapku seolah menyuruhku pergi dari dapur
pergi ke ruang keluarga dan menelepon Dad. Dan kurasa itu yang akan kulakukan.
Menelepon
Dad sering kulakukan, tapi menyuruhnya pulang. Dia akan memberiku sejuta alibi
untuk tidak pulang. Aku menekan nomor ponselnya ke telepon kabel, masih tidak
ada jawaban selain bunyi klise dari
saluran telepon.
“Halo?”
Aku
menghela napas, “Hai Dad.” Sapaku.
“Hai,
sugar. Kau ada dimana sekarang?”
“Rumah
Aunty Georgie, bersama Zac.”
“Benarkah?”
nadanya terdengar meragukan, ada jeda di percakapan kami. “Maafkan aku sugar, aku baru mengecek panggilan masuk
ini. Ada apa? Apa Zac sakit?” nadanya sedikit khawatir.
Aku
menggeleng, dan aku cukup bodoh karena Dad tidak mungkin bisa melihatku.
“Tidak, dia tidak sakit. Dia sangat sehat, uhm… Dad… apakah kau akan pulang
hari ini? Karena kami benar-benar menunggumu.”
Dia
mendesah, ada jeda lama lagi dan aku tidak mau dia mengatakan tidak untuk
kesekian kalinya. “Darling, aku-“
Aku
memotong perkataan Dad sebelum ia melanjutkannya, “Ini Thanksgiving, kumohon.
Kali ini saja.”
“Aku
tahu,” dia mendesah berat. “Akan kuusahakan, Eloise. Aku janji.”
Aku
memutar bola mataku, “Jangan berjanji apabila kau tidak sanggup menepatinya,
Dad. Selamat hari Thanksgiving.” Kataku ketus, aku langsung menutup teleponnya
dengan kasar.
Aku
berjalan melewati ruang tamu dan berdiri di depan pintu masuk, mengambil mantel
coklatku yang tergantung diatas hanger dekat pintu, kemudian tanganku
kujulurkan untuk meraih boots diatas
rak sepatu. Aku memutuskan untuk mencari angin segar di malam hari alih-alih
meredamkan amarahku yang sempat tertahan pada Dad di telepon tadi, karena
kecewa. Aku marah bukan untuku sendiri, tapi aku marah karena dirinya terlalu
mengabaikan Zac, apalagi saat Mum meninggal.
Aku
memang tidak tahu ia sesibuk apa, tapi menurut Isaac anak buah ayahku yang
merupakan temanku dan kami memiliki perbandingan usia yang cukup jauh, sekitar
tujuh tahun. Dad memang boss yang sangat-super sibuk. Semua hal di kepolisian
Manchester ini dilimpahkan kepadanya, dia berharap aku mengerti akan posisi
Dad. Aku mencoba untuk mengerti, tapi pengertianku ini disalah artikan olehnya,
seolah aku tidak perduli dengan Dad akan situasinya. Padahal aku sangat peduli
padanya, dan saat ini aku sangat merindukan Dad.
Sebelum
aku meresletingkan bootsku, Aunty
sudah ada di ambang pintu ruang tamu. “Kau mau kemana Gretta?” Tanyanya, Aunty
selalu memanggilku dengan nama Mum saat ia terlihat kesal atau jengkel padaku.
Aku pernah menanyakan perihal menggunakan nama Mum untukku. Dia bilang aku
sangat mirip dengannya secara fisik, tetapi tidak pada sifat. Aku memiliki
sifat yang bertolak belakang 180°. Itu yang ia katakan.
Aku
menahan putaran bola mata, menengadah untuk menjawab. “Mencari angin segar.”
Kukira
ia akan melarangku dengan keras, atau menyuruhku masuk ke dalam kamar sebelum
pukul 20.00. Tapi ia malah sedang merogoh saku celemeknya dan memberikan
kertas, yang kukira itu sebuah daftar belanjaan. “Sebelum kau pulang, mampirlah
dulu ke Asda, dan belanja kebutuhan yang kutuliskan di kertas itu.” Telunjuknya
mengarah pada kertas yang kupegang, dan ia merogoh dompet dari saku belakang
celananya. Mengeluarkan sebuah kartu kredit dari dompet pria itu.
Aku
segera mengambilnya dan mengangguk tanpa bicara, aku kembali berlutut untuk
meresletingkan boots-ku. Lalu berdiri
dan meraih gagang pintu kemudian mendorongnya.
Saat
aku menuruni tangga dan berjalan sejauh dua rumah, Aunty meneriaki namaku,
sontak aku berbalik. Dia ada di teras depan rumah, “Gretta! Kau harus pulang
sebelum pukul delapan malam.” Sahutnya.
Aku
tertawa kecil, kemudian mengangguk. “Yeah.” Aku berseru tak kalah keras
darinya. Membalikkan badan dan kembali berjalan.
-0o0-
Aku
melirik jam di tangan dan ini masih pukul 19.30, masih memiliki waktu setengah
jam lagi untuk pulang. Aku memutuskan untuk mengakhiri belanja dengan membawa trolley menuju kasir. Aku mengeluarkan
semua barang dari trolley di
tempatkan di atas meja kasir dan kasir memeriksa belanjaanku menghargainya
melalui mesin pengecek harga yang menyatu dengan meja itu. Si kasir menotalkan
semua belanjaanku, dan aku memberikan kartu kredit padanya kemudian melakukan
transaksi, setelah ini berakhir kasir itu memberikanku setruk belanjaan padaku
dan aku langsung meraih dua kantung belanjaan penuh.
Berjalan
saat malam hari dengan cuaca musim dingin yang sedikit agak ekstrim dari
biasanya, membuatku merasa menyesal karena tidak menggunakan mobil. Walaupun
jarak Asda dan rumah Aunty tidak terlalu jauh hanya sekitar sepuluh blok, hanya
saja sedikit melelahkan bila harus berjalan.
Aku
memutuskan untuk berjalan tidak menggunakan bis, karena aku malas menunggu
terlalu lama. Kurapatkan lagi mantelku dan berjalan lebih cepat. Aku melewati
jalanan kosong jika malam-malam, jarang terjamah oleh orang. Aku tahu ini
sedikit bodoh, aku melewati jalan itu agar lebih dekat untuk pulang alih-alih
jalan pintas. Jalanan ini hanya sepi jika malam hari, tapi tidak pada siang
hari, tidak akan berbahaya bila aku selalu membawa pisau lipatku yang kusimpan
di boots dan semprotan merica yang
Dad berikan padaku dibalik saku mantel.
Melirik
ke arah kiriku, melihat pepohonan berselimut salju tebal, butiran es itu jatuh
ke atas kepalaku yang tak terlindung dari topi rajut atau apapun jenis penutup
kepala lainnya. Es itu jatuh ke kepundakku, mengotori mantelku seperti beledu.
Saat aku berjalan mulai jauh, mataku menyapu pandang di ujung sana tepatnya
dekat toko roti langganan Mum, aku melihat seorang pria berjalan tergopoh-gopoh
dengan posisi badan membungkuk memegang perutnya, lalu jatuh di depan toko roti
tersebut.
Aku
menlean ludahku, sepertinya pria tinggi itu membutuhkan pertolongan, tapi aku
takut terlibat dalam masalah. Pasalnya Dad adalah polisi dan aku malas untuk
terlibat dalam pelanggaran publik. Disisi lain, aku harus menolong pria itu,
entah kenapa aku merasa kalau diriku ini bukanlah ABG ingusan yang tidak
bertanggung jawab.
Baiklah
aku akan menghitung sampai sepuluh jika tidak ada yang menolongnya, aku yang
akan kesana dan menghubungi panggilan darurat. 1… 2… 3…
Aku
putuskan untuk tidak melanjutkan hitungan tololku barusan, aku berlari
sekencang mungkin untuk menghampiri pria itu, tak perduli apa yang akan terjadi
selanjutnya. Kewajibanku saat ini adalah menolong pria tersebut. Kujatuhkan
kantung belanjaan ke atas trotoar, dan mulai mengecek keadaan pria itu.
“Sir!”
“Sir,
apa kau mendengarku?”
Dia
masih bergeming dengan posisi memunggungiku.
Akhirnya
aku berjongkok mencondongkan tubuh dan mendorongnya memosisikan dia untuk
terlentang, aku terkejut tangannya yang masih bertengger di atas abdomen
mengeluarkan banyak darah, dan ia tak sadarkan diri.
“Fuck!” Umpatku keras.
Ini
pertama kalinya aku menemukan korban kecelakaan di depan mataku sendiri. Aku
langsung merogoh saku mantel untuk mengambil ponsel dan menelepon panggilan
darurat 999.
Dia
tanggung jawabku, jadi aku butuh tahu identitas pria ini, lagi pula saat
ambulan datang aku juga akan tahu orang ini siapa, meskipun aku tidak
mengenalnya setidaknya aku pernah melihat wajahnya.
Persetan!
Aku sangat penasaran. Aku kembali berjongkok mencondongkan tubuhku, menjulurkan
tangan untuk melepas topinya perlahan agar tidak menimbulkan goncangan, kubuka
masker yang menutupi wajahnya. Aku tak bisa bernapas dengan ritme yang teratur alih-alih
tersengal-sengal, aku membuka mulutku lebar-lebar menatapnya cengo, ingin
mengutuk siaapapun yang mengirimkan pria yang sekarat ini untuk bertemu denganku.
Aku
meremas mantelku menatapnya ngeri, ini sangat sinting!
Apa
yang dipikirkan cowok ini sehingga bisa mencelakakan dirinya sendiri. Demi
Tuhan! Dia membuatku sakit kepala, dia dua kali menemuiku dengan keadaan tak
lazim.
Pertama
mabuk berat.
Kedua
kecelakaan
“Kau
benar-benar keparat, Barnes!”
Dad
pernah mengajariku tentang pertolongan pertama kegawat daruratan sewaktu umurku
empat belas, dulu aku belajar tentang Resutasi Jantung Paru, Dad bilang itu hal
yang sangat penting. Pada kenyataannya aku belum pernah melakukannya kepada
korban kecelakaan, selain pada ayahku. Dan sekarang aku harus mulai melakukan
RJP pada Barnes.
Yeah, aku harus
melakukannya.
Aku
mulai merentangkan tubuhnya lalu mulai melakukan evaluasi mulai dari memukul
kedua bahunya dengan cukup keras, meletakkan dua jari disekitar leher untuk
mencari denyut nadinya dan memiringkan kepalaku mendengarkan embusan napas di
hidungnya.
Negatif. Dia
benar-benar tidak sadar.
Aku
mulai membersihkan rongga mulut Barnes dengan sarung tangan berbulu milikku.
Sumpah aku tidak akan pakai sarung tangan ini lagi. Kemudian aku duduk bertumpu
di atas lututku dan menumpukan kedua tanganku di atas rongga dada Barnes, mulai
menghitung sampai 30 kali sebanyak 1 menit termasuk 2 kali bantuan napas mulut
ke mulut.
Oh
Tuhan! secara tidak langsung kami sudah berciuman. Dan ini tidak bagus.
Melakukan
RJP sampai 5 siklus, sebelum aku melakuka evaluasi kembali. Mulai melupakan
seberapa banyak aku berciuman dengannya.
Astaga!
tapi aku menghitungnya sekitar 12 kali, termasuk satu siklus pertama yang
memang harus diabaikan. Itu seharusnya menjadi pengalaman pertama yang sangat
buruk. Tapi perasaanku berkata lain, sulit untuk menyangkal kalau aku
menyukainya.
Ketika
ambulan datang, mereka melakukan pertolongan pertama pada Barnes dengan
memberikannya alat bantuan pernapasan mengangkatnya untuk dibaringkan di atas brankar
dan memasukannya ke dalam ambulan. Sedangkan aku masih diam dekat ambulan dan
tak bisa berpikir jernih.
Seseorang
menepuk pundakku, aku menoleh kearahnya. Ternyata petugas medis “Miss?”
“Eloise
Walker,” kataku tersenyum miring.
Dia
mengangguk, “Kau harus ikut bersama kami.”
Aku
meliriknya kemudian menoleh sekilas pada Barnes dengan kondisi tak sadarkan
diri di dalam ambulan, menimbang-nimbang apakah aku harus ikut atau tidak. Tapi
percuma saja, dia butuh wali dan polisi pasti akan datang memberikanku
pertanyaan bertubi-tubi tentang Barnes. Jika, aku tidak ikut mereka malah akan
mencurigaiku. Damned it! Ini pilihan yang sangat sulit.
Aku
mengangguk penuh ragu, membawa kantung belanjaanku yang tergeletak dan masuk ke
dalam ambulan, duduk di kursi penumpang. Akhirnya ambulan ini melaju dengan
kecepatan konstan, dengan bunyi sirine khas berulang-ulang, dan aku
membencinya. Aku tertunduk lemas menahan kepalaku dengan kedua tangan yang
kukepal dipangkuan, mendesah berat tak berharap jika kolega Dad yang
memberikanku the damn question. Aku
mengintipnya dari balik celah tanganku, dia benar-benar tampak tak berdaya.
-0o0-
Setelah
aku turun dari ambulan, membawa Barnes ke dalam ruang UGD adalah prioritas
utama, cepat-cepat aku menghambur berlari dengan tergesa bersama tim medis mendorong
brankarnya ke dalam ruangan tersebut. Aku mengikuti dokter dan mereka masuk ke
dalam ruangan bersekat gorden, saat mereka masuk aku diberhentikan oleh seorang
perawat untuk menunggu diluar. Secara spontan aku mengangguk dan memutuskan
menunggu diluar.
Merasakan
hiruk pikuk banyaknya pasien yang ada dirumah sakit ini, dengan suara monitor,
rintihan pasien, suara dokter yang sedang menjelaskan kondisi pasien kepada
keluarganya, suara langkah kaki yang tergesa berasal dari perawat yang
mengantarkan pasien gawat lain ke ranjang dan berbagai suara yang menandakan
bahwa ruangan ini amat sangat sibuk. Aku masih berdiri memangku tangan,
memikirkan keadaan ini begitu buruk sehingga aku tidak perlu untuk menghubungi
Aunty Georgie.
Omong-omong
masalah Aunty Georgie, aku langsung meorogoh ponselku dan melihat di layar
kalau ada sepuluh panggilan tak terjawab, 9 dari Aunty, dan 1 yang membuat
jantungku mencelus begitu saja. Itu dari Dad.
Kuputuskan
untuk mengirim pesan teks pada Aunty dan mengabaikan Dad.
Aunty Georgina:
Aunty,
aku tidak bisa pulang hari ini karena aku baru saja mendapatkan peristiwa tak
terduga yang sangat genting, jangan menelepon sebelum aku meneleponmu lebih
dulu. Ini rahasia, kuharap kau bisa tidak memberi tahu dad, i love you.
Salah
satu perawat membukakan gorden dan perawat yang lainnya mendorong brankar
Barnes menuju ke tempo yang cepat sampai ke ruangan yang aku tidak tahu.
Sebelum aku masuk ke dalam pintu kaca buram, perawat mengehentikanku lagi.
“Nona,
kau tidak boleh masuk.”
Aku
masih bergeming.
“Dia
harus di operasi. Kau keluarga korban?” Katanya lagi.
Aku
menggeleng cepat, “dia hanya temanku, lakukan apa saja, asal ia selamat.”
“Apa
kau sudah menghubungi orang tua? Operasi tidak akan dilakukan jika tidak ada
tanda tangan orang tuanya.”
Aku
mengepalkan tinjuku berharap ada relawan yang ingin ku tonjok sekarang juga, Oh
Tuhan! Aku tidak punya waktu untuk menimang-nimang lagi.
“Aku
akan tanda tangan!” Seruku keras.
“Masalah
biaya operasi, aku akan menghubungi orang tuanya, percayalah.” Kataku lagi
memelas.
Kedua
tanganku meremas rambut, berpindah ke tengkuk, memijat pangkal hidung kemudian
beralih berjongkok memeluk lututku sendiri di koridor sekitar ruang operasi.
Menghela napas beberapa kali tadinya kukira akan menenangkanku, tapi hasilnya
nihil. Aku benar-benar takut sekarang.
Aku
terbiasa dengan melihat banyaknya korban kecelakaan di dalam film, kukira aktor
yang memerankan peran sebagai penolong maupun korbannya, sangat berlebihan dan
berakting secara tidak alami, seperti yang kulakukan sekarang. Tapi aku salah
kaprah dengan semua itu, mereka berakting sesuai dengan hal yang kurasakan
sekarang aku merasakan perasaan yang sulit dipahami seperti-empati, ingin
menangis, napasku tersekat sehingga kau harus menghirup napas dua kali lebih
dalam, dadaku terasa sesak seketika, aku sungguh-sungguh merasakan hal yang
tidak pernah kupahami, aku merasa ia sedang sekarat di dalam sana dan seolah
aku mempunyai koneksi denganya yang membuatku seperti ini.
Oh Tuhan! Perasaan
sialan apa ini sebenarnya.
“Nona.”
Seorang pria berseragam polisi datang menghampiriku dan menyentuh bahuku.
Aku
menengadah, mengembuskan napas lalu bangun untuk berdiri. “Yeah?” dan aku
terpukau dengan rencana Tuhan kali ini.
“Eloise?”
Tanyanya dengan ekspresi wajah terkejut tak menyangka aku ada disini, berurusan
dengan korban yang memiliki dua tembakan di tubuhnya.
Aku
menggigit bibir bawah, “Isaac” Sahutku lalu tersenyum bodoh.
Dia
menarikku ke bangku tunggu terletak di depan pintu, dia duduk dan mencondongkan
tubuhnya kearahku, matanya menyipit, sudut bibirnya bergetar. “Apa kau kenal
korban kecelakaan itu?” tanyanya skeptis.
Aku
memainkan tanganku, tak berani menatapnya. “Yeah, dia temanku.” Kataku pelan.
Dia
mendesah memicingkan mata, “Kau yakin?”
Aku
memutar bola mata, merasa ia polisi bodoh. “Yeah, dia temanku, kami satu
sekolah di Almagest.”
“Kalau
begitu beri tahu aku nomor orang tuanya, sehingga kami bisa memberi tahu
keadaan anak mereka sedang kritis.” Dia bersedekap.
Aku
menggeram kesal, “Tidak, kami memang satu sekolah tapi kami tidak berteman.”
Dia
menaikkan satu alisnya, “Kau bilang itu temanmu tadi, tapi kau langsung
mendadak bilang tidak berteman.”
Aku
menyipitkan mataku, “Kurasa itu tidak penting, Isaac.”
“Beri
aku nama bocah sekarat itu sekarang.”
“Aidan.
Aidan Barnes.”
“Kau
yakin?” ekspresinya meragukanku.
“Kau
hanya perlu mengabari orang tuanya kalau anaknya itu sedang sekarat disini! Karena
aku tidak mau terlibat terlalu jauh!” Jawabku mendesis, tak ingin menunjukan
kepedulian pada cowok itu.
“Kejar-kejaran
antar geng?” Tanyaku.
Dia
memasukan pistol yang ia bersihkan selonsong pelurunya ke dalam saku celananya,
“Yeah, kau tahu saat kau menemukan bocah itu dari jarak 1 km kami melihat Porsche Boxster yang menabrak tiang
listrik, dengan ceceran darah. Yang kukira itu miliknya. Tapi belum cukup kuat
untuk bukti itu, karena tidak ada SIM maupun Kartu asuransi mobil tersebut dan
darahnya belum di cek sama sekali. Jadi, ini baru saja kebetulan.” Katanya
santai, dan membuatku menahan napas.
Siapa bajingan ini?
“Kita
belum tahu apa yang dialami bocah itu Isaac, jadi lanjutkan penyelidikanmu itu.
Aku masih akan menunggu disini.”
Dia
kembali bersedekap, memandangku dengan tatapan penuh kecurigaan dan aku merasa
gugup. Bahkan aku tidak tahu kenapa aku harus gugup.
“Eloise,
bagaimana dia di sekolah?” Dia mengetukkan kaki dengan irama monoton, “Secara
detail.” Imbuhnya.
Astaga!
Bahkan aku merasa muak untuk memulainya, “Dia cowok yang populer, kapten tim
Rugby punya teman dekat kurasa,” kataku enggan melanjutkan, tapi pelototan
mematikan itu menyuruhku untuk berbicara banyak tentang Barnes, yang akupun
sama sekali tidak tahu banyak tentangnya. “Nama temannya Joe, Jonathan Calvaro.
Dia sama seperti cowok populer lainnya, suka mempermainkan banyak cewek,
membuat onar di Sekolah. Dan pernah mendapatkan detensi-”
“Detensi?”
katanya tergesa, pensaran dengan apa yang kukatakan.
Aku
menarik napas dan mengangguk, “Yeah, memergokinya dengan cewek di kafetaria
tengah malam.. kau tahukan?” Jawabku sedikit enggan dan malu.
Isaac
mendengus geli, “Whoa, ternyata kau tahu ia begitu banyak, El. Kau pacarnya?”
Aku
menendang betisnya, spontan ia membukungkukan badannya meringis memegangi
betis, “Berhenti bermain-main, cepat pergi selesaikan kekacauan ini.” Aku
mendorongnya pergi keluar sampai ujung lorong.
Sudah
hampir dua jam aku menunggu disini
bersama kedua polisi yang Isaac katakan padaku, mereka baik dan ramah
membawakanku cappuchino panas dan
donat, yang kukira itu makanan favorit mereka. Berbincang denganku sesekali
menanyakan siapa Barnes dan latar belakang cowok itu, melakukan interogasi
secara tidak langsung menyogokku dengan perhatian seperti ini.
Pria
berpakaian baju operasi yang kukira itu adalah dokter keluar dan memanggilku,
aku segera menghampirinya dengan segelas cappuchino
yang masih mengepul. Seperti adegan drama suami yang menunggu keadaan isterinya
saat melahirkan secara caesar. Oh dan tentu saja, bukan aku isterinya.
“Kau
gadis yang menolong pasien?” Tanya dokter itu.
Aku
mengangguk cepat, “Yeah, nama bocah itu Aidan Barnes, dan aku Eloise Walker.
Jadi bagaimana keaadaannya?” tanyaku panik.
Dia
tersenyum, “Dia baru saja mendapat dua bekas luka tembakan di tubuhnya, dan
hampir saja kami kehilangan dia saat kekurangan stok darah,” aku menahan napas
lagi. “Karena dia benar-benar kehilangan banyak darah, terima kasih untukmu
Nona, karena kau sudah menolongnya dengan cepat. Kau bisa mengunjunginya di
kamar perawatan.”
Aku
masih terpaku di tempatku sampai walau dokter itu dan kedua polisi tadi sudah
menghilang dari peredaran. Aku langsung menghabiskan minuman yang sudah dingin
itu dengan satu tegukkan, meremas gelas karton dan langsung membuangnya ke
tempat sampah. Aku sedikit meringis berpikir tentang malam ini, tentang siapa
sebenarnya Aidan Barnes, yang tertembak dua peluru mentah entah itu peluru
nyasar ataupun peluru yang benar-benar ditargetkan pada cowok itu. Dan mobil
itu, hanya orang kaya yang bisa membeli Porsche
yang aku tahu mobil itu memang mahal. Orang sinting biasa mana yang bisa membeli
mobil mahal itu dan seenak jidat menabrakannya ke tiang listrik terdekat. Aku
tertawa sendiri, kenapa aku begitu risih saat tahu kalau aku ini tertangkap basah
tengah memikirkan si keparat itu, yang baru saja menghancurkan makan malam
penuh khidmat dan syahdu di malam Thanksgiving penuh salju ini.
Aku meringis, menggeram keras penuh kejengkelan dan menendang tong
sampah alumunium itu sampai terguling, kemudian berjalan menuju ruang
perawatan.
-0o0-
Aidan Barnes
Aku menginjak pedal gas dalam-dalam memacu mobil ini lebih cepat dari
biasanya, karena malam ini aku merasa dua sedan hitam itu mengikuti semenjak
aku kembali dari Liverpool. Sekarang sudah jam 7 malam dan masih di jalan, akan
lebih buruk lagi jika aku pulang ke Manchester jam 9. Kecepatanku sudah
mencapai 80 mil masih di jalan lurus dengan pepohonan berselimut salju, melaju
kencang di jalan aspal yang sudah dilapisi es karena malam ini salju turun
lebih banyak dan lebih dingin dari pada biasanya. Aku masih mengatur napasku
karena terengah-engah, melihat kaca spion di samping kiri, kini sedan hitam itu
hampir menyusulku secara otomatis kakiku menginjak lebih dalam pedal gasnya
lagi sehingga kecepatan kali ini memasuki 100 mil per jam masih di jalan lurus
dengan kabut tebalnya belum sampai di belokkan.
Aku menyalakan CD musik Rock dengan volume keras, hingga suara lainnya
tenggelam, untuk membuatku fokus pada jalanan, bukan pada dua sedan hitam
sialan yang sekarang sedang membuatku berhenti di tengah jalan. Saat menemukan
belokkan pertama aku melaluinya dengan sempurna tentu dengan decitan ban habis
nge-drift layaknya pembalap liar. Aku
mengambil jalur kanan karena kecepatanku saat ini hampir diambang batas, selintas
banyak kabut putih mengaburkan pandanganku, bahkan aku merasakan langit sedang
mendung padahal ini malam hari. Sialan! saat memasukki belokkan kedua, aku
mendapati truk besar menghalangi dengan sorot lampu berpendar menerangi
sebagian mobilku.
Fuck! Aku tidak takut mati.
Aku
mengamatinya lekat-lekat seakan ajalku mau datang hari ini, kuputar setir
mobilku sampai mentok.
Oh Tuhan! Terima kasih.
Aku
melewatinya, namun suara klakson mobil yang lain dibunyikan dengan keras, kaca
mobilku berembun dan kabut malam semakin tebal. Keparat! Sekarang aku tidak
bisa melihat apapun selain sorot lampu kejauhan dan bunyi nyaring klakson.
Tidak memedulikan hal itu, aku masih mengemudikannya dengan kecepatan penuh.
Sial! Di depan sana aku
melihat sebuah sedan hitam. Dan sedan itu sedang menghalangi laju mobilku.
Satu
meter jarak mobil kami berdekatan, kecepatan ini tak bisa dikurangi meskipun
aku tak menginjak pedal gasnya sekarang. Mobil ini meluncur dengan sendirinya
di atas jalan berlapis es. Aku mengangkat kedua tanganku tidak menyentuh setir
kemudi, untuk menutupi kedua wajahku.
Fuck!
Mobilku
menghantam keras sedan hitam disana, terpental jauh dari tempatku yang tadi
sampai aku tidak merasakan apapun. Dan aku masih hidup. Aku menghirup napas
dalam dan mestabilkan detak jantung yang semakin tidak karuan.
Astaga! Apa itu tadi,
barusan aku hampir mati.
Aku
membuka pintu mobil dan berjalan keluar, berdiri saja sudah sulit karena
mendapat benturan keras dari kejadian tadi. Aku merasakan ada yang tak beres
dengan dahi, terasa basah tanganku mencoba memegangnya ini memang basah.
Damned it! It’s blood..
Bang!
Sialan!
Aku masih belum pulih, mereka masih bisa memuntahkan peluru dengan pistol
seenaknya. Aku merunduk diantara mobilku dan sedan hitam itu, merogoh sakuku
mengeluarkan pistol masih mencuri pandang, menghitung jumlah si bajingan yang
menyerangku ini. Satu dia ada di arah jam 3 berpakaian serba hitam dengan jubah
dan topeng mereka, sialan aku tidak dapat mengenalinya. Orang kedua sedang
berjalan seraya membungkuk awas-awas jika ada yang menembaknya.
Bang!
Aku
menembak orang kedua tepat di kakinya, dia terkulai pendarahan mulai terjadi,
aku memberinya lagi tembakan kedua tepat saat ia sedang berlutut memegangi
kakinya. Kemudian mereka memberondongku dengan peluru seketika kaca-kaca mobil
hancur berantakan dan bergemerincing di jalanan. Aku memutuskan bangun dengan
napas tersengal berjalan perlahan untuk kembali masuk ke dalam mobil dan kabur
dari tempat ini. Memutari untuk masuk ke dalam mobil bukan perkara yang mudah
karena aku harus menghabisi bajingan itu. Mereka masih menembakkiku, aku
bersandar di kap mobil turun untuk berjongkok menembak kepala pria yang sedang
bersembunyi di di dalam mobil jok penumpang, kacanya terbuka sehingga lebih
mudah kulakukan. Yeah, kacanya terbuka dengan selongsong senapan yang tepat
membidik ke arahku. Mengagumkan.
Satu
peluru menembus kepalanya. Ada dua lagi, itu perkiraanku. Tanpa mengalihkan
pandangan dari mobilku aku berjalan dengan suara tembakkan yang mennghujanniku,
mengisi magasin dengan yang baru dan menjulurkan tanganku kebelakang dengan
tatapan didepan menembakki siapapun. Aku mencoba masuk dengan membuka pintu
mobil.
Shit! Orang itu
meninjuku. Orang yang kukira berasal dari mobil yang kuhantam.
Tinjunya
membuatku mencium aspal, aku bangun dan meninjunya balik sampai ia tersungkur
dengan gerakan cepat menginjak dadanya dan menembak dada pria itu, darah segar
merembes dari pakaian serba hitam itu.
Bang!
Sialan!
Aku tertembak di perut bagian kanan
Bang!
Mereka
memuntahkan peluru sialan itu lagi ke perutku untuk yang kedua kalinya, ototku
mengejang rasanya mengerikan, membakar habis rasa sakit di tubuhmu, ini sangat
menyiksa dua peluru sekaligus menembus tubuhku pada selang waktu beberapa
detik. Merasa organmu akan pecah seketika, aku mengerang keras. Menahan rasa
sakit ini dengan menggigit bibir bawahku. Merasakan ajal akan datang dengan
luka tembak ini. Darah terus mengalir tanpa henti.
Aku
masuk ke mobil, mengambil apapun yang ada di dalam jok penumpang untuk
menghentikan pendarahanku, dan aku menemukan syal. Kulilitkan syal ini di
perutku.
Sebelum
mereka mendekat, aku memundurkan mobil dengan pedal gas terinjak kuat, merasa
menabrak sesuatu atau lebih tepatnya seseorang, kemudian memutar kemudiku berbelok
menjalankannya dengan kecepatan penuh.
Tapi
aku tidak ingat. Aku tidak ingat kalau aku sudah mati sekarang, apa aku masuk
surga? Karena aku mendapati langit-langit dengan cahaya yang begitu terang,
dengan malaikat berambut ikal coklat terurai dengan mata ambernya.
Apa yang kupikirkan
barusan adalah mata amber?
“Barnes?
Aidan?” Dia memanggilku barusan, kemudian malaikat bermantel cokelat itu
berlari keluar.
Kurasa aku belum mati.
-0o0-
Jika
ini mimpi, ini adalah mimpi yang teraneh yang pernah kualami. Aku membuka
mataku perlahan, menyapu pandang mengamati setiap detail ruangan ini, dan aku
tidak ingat kenapa aku terbaring di sebuah brankar dengan pakaian pasien rumah
sakit, dengan selang keparat yang menyelubungi tubuhku sekarang. Dan mataku
tertuju pada cewek yang duduk santai menjulurkan kakinya di atas sofa panjang
dengan kantung mata yang menghitam.
Dan
dia menghampiriku, menyentuh pipiku dengan lembut. “Barnes? Apa kau sudah
sadar?” Tanyanya.
Aku
ingin mengangguk, tapi aku sulit.
“Kau
tidak amnesia bukan? Karena dokter bilang kau mengalami gegar otak, operasi dua
peluru nyasar di perutmu, dan tulang tanganmu patah. Tapi sebulan dua bulan
tanganmu akan kembali pulih.”
Jadi
kejadian itu bukan mimpi.
“Aku
ingin duduk.” Sahutku pelan, lalu ia ke ujung brankar memutarkan sebuah tuas
yang membuat ranjang ini menaik.
Dia
kembali ke posisi awal di sampingku, terlihat sangat lusuh dengan rambut
cokelat lepek yang dikuncir kuda, yang kukira dia yang membawaku ke rumah
sakit. Dan aku memimpikan malaikat berambut ikal cokelat yang kukira si Walker.
“Berapa
lama aku disini?” tanyaku dengan suara parau.
Bola
matanya menatap langit-langit, wajahnya terlihat berpikir dan kelelahan.
“Kurasa dua hari, dan ini malam sekitar jam 22.00 tanggal 25 November, sekadar
informasi.”
Dua
hari, berarti kecelakaan itu kemarin. Aku menghela napasku, “Kau bisa pulang ke
rumahmu, dan tak usah repot-repot ada disini.”
Dia
mengerutkan dahi, merasa tidak suka jika aku mengatakan hal barusan, “Kau tahu?
Kau baru saja menemui ajalmu jika aku tidak segera membawamu kembali, aku bisa
saja meninggalkanmu sekarat di jalan dan makan malam di hari Thanksgiving
kemarin.” Dia bersedekap sorot matanya gelap, terlihat tidak terima.
Aku benci berhutang
nyawa pada seseorang.
“Lalu
kau mengharapkan apa dariku? Ucapan terima kasih?”
Dia
membuka mulutnya, mengipasi dirinya sendiri dengan tangan. Matanya menatapku
galak. “Hei! Tuan, aku tahu kau seangkuh itu. Aku tahu mulut kotormu itu tidak
akan mengeluarkan kata terima kasih kepada
penolongmu di saat kau sekarat, sepeti
manusia normal kebanyakan dan aku tak pernah mengharapkannya. Hanya hargai
waktu luangku yang kuhabiskan disini untuk-“ dia menelan ludah, bentuk lengkung
leher jenjangnya sangat sempurna. “Untuk hanya sekadar menjadi walimu, karena
mereka memintaku. Tentu saja, dokter dan polisi. Oh yeah, omong-omong soal
polisi mereka sangat mati penasaran dengan kecelakaanmu itu, tertembak peluru
dengan sengaja, atau peluru nyasar. Astaga aku tak habis pikir-“
“Apa
yang kau katakan pada mereka?” Tanyaku mendesis, menatapnya dengan intens,
seolah kata-kata polisi dari mulutnya merupakan kata sandi untuk membuatku
kembali seperti semula.
Dia
berhenti, menatapku dengan tatapan cemas dan takut kemudian menjilati bibirnya
agar tidak gugup. “Yeah, aku mengatakan hal yang sewajarnya. Seperti..”
Ayo
lanjutkan seperti apa
Dia
menghela napas, menaikkan dagunya. “Seperti apa jika kau di Sekolah, aku bilang
pada mereka kalau kau itu kapten tim Rugby, murid pembuat onar karena sering
kudapati kau tengah bermesraan.” Dia menunduk malu, pipinya bersemu kemerahan
saat ia mengatakan kata terakhir.
Dan
itu terlihat……. Astaga Aidan dia si Walker cewek menyebalkan.
Dia
membuang muka, “Aku tidak perduli dengan apa yang kau lakukan di luar sana,
bahkan membuatmu celaka seperti ini, terlihat sedang di kejar oleh kerumunan
babi hutan, misalnya.” Aku terkekeh, menahan tawa. “Aku sungguh tidak perduli,
tapi rasa kemanusiaan yang ada di dalam sini,” dia memegang dadanya. “Aku punya
ini, dan aku tidak ingin terlibat terlalu banyak. Jadi, kau harus menelepon kedua
orangtuamu supaya aku terbebas dari kasusmu.”
Dia
melengkungkan senyumnya, “Tapi tenang saja, sebelum orang tuamu datang aku akan
tetap disini.”
Aku
tidak habis pikir, apa yang sebenarnya cewek ini lakukan disini. Untuk
menolongku, katanya. Baru pertama kali aku benar-benar di tolong oleh
seseorang. Aku menatapnya lagi, mengerutkan dahi dan membuat perubahan sedikit
di sudut bibir. Dia membalas menatapku dengan tatapan was-was.
“Kenapa
kau merayakan Thanksgiving?” Seharusnya aku tidak bertanya pertanyaan tidak
penting ini, aku mendengus berharap cewek ini lebih baik tidak menghiraukannya.
“Itu
bukan urusanmu,” nada suaranya terdengar ketus, bibirnya mengerucut.
Memalingkan wajah menatap jendela di samping brankar, tak ada lagi kelembutan
suaranya.
Aku
memutuskan untuk diam, dan merenungkan kejadian kemarin malam. Mencari tahu
siapa sebanrnya bajingan sialan yang mencoba untuk membunuhku, aku bisa mencari
tahu siapa pengecut yang menembakiku. Yeah, dengan peluru yang mereka gunakan.
Mereka tak akan sebodoh itu untuk melakukan hal yang ceroboh.
Sial!
Tapi bagaimana bisa aku mengambil barang bukti yang kurasa sudah ada di tangan
para polisi itu, aku menggeram keras. Membuat Walker membalikkan tubuhnya dan
mnegawasiku, mencari tahu apa yang sedang aku lakukan.
Dia
sedikit menunduk dan mencondongkan tubuhnya agar bisa memperhatikanku dengan
intens, “Apa kau merasakan sesuatu? Seperti sakit atau semacamnya?” Tanyanya
dengan nada sedikit khawatir.
Aku hanya mau kau
mengambil peluru itu, Walker.
“Tidak.
Kau cukup baringkan aku kembali, dan setelah itu kau boleh pergi. Aku butuh
istirahat.” Kataku lagi lalu menarik selimutku.
Tanganku
besentuhan dengannya, yang kukira ia mau menyelimutiku. Ini tidak baik, aku
terkesan lebih menolak perlakuan baiknya. Dia segera menarik tangannya kembali,
wajahnya bersemu aku yakin itu karena dia marah padaku. Terlihat bibirnya
sedari tadi komat-kamit tak jelas, mungkin dia menyumpah.
Dia
menghentakkan kakinya keras-keras sehingga derap langkah sepatu yang terhentak
dengan lantai menjadi sedikit agak bergema, dia sangat konyol-entah kenapa aku
tertawa sendiri bila melihatnya begitu kesal.
Walker
langsung merebahkan diri ke sofa panjang yang ada di sebelah brankarku, setelah
ia mematikan lampu tanpa bertanya padaku terlebih dahulu. Tertidur
memunggungiku, tadi ia baik-baik saja lalu sekarang dia menjadi tipikal
menyebalkan. Apakah semua cewek di dunia ini memang serumit itu? Atau hanya dia
saja, Eloise Walker yang mungkin memiliki beberapa kepribadian di dalam
dirinya.
-0o0-
Perawat
masuk ke dalam kamarku dengan membawakan nampan untuk sarapan, memberikannya
pada Walker. Dia tersenyum mengambil nampan itu berjalan kearahku dan diam,
menyimpan nampanku diatas meja.
“Kau
mau makan? Kurasa atas perlakuan kasarmu kemarin, kau bisa mengurusi dirimu
sendiri, bukan?” Sahutnya dengan raut wajah dingin dan ekspresinya berubah
menjadi kecut. Itu kebalikan 360° dengan wajahnya yang so-super manis sewaktu berinteraksi dengan perawat tadi.
Setiap
dia menatapku, selalu memberikan tatapan tipikal cewek arogan yang menyebalkan.
Perlakuan kasar katanya? Apa ada yang ganjil dengan sikapku kemarin? Dia malah
diam dan tidak bilang apa-apa.
“Jadi,
kau bukannya mau menolongku, malah memutuskan untuk mendaratkan bokongmu di
sofa sialan itu dan tidak melakukan apa-apa?” Tanyaku dengan nada sedikit
meninggi dan emosi-sedikit emosi.
Matanya
melebar, “Yeah! Aku lebih suka menyeret bokongku ke sofa itu dan mengawasimu,
tidak menyentuhmu.” Gumamnya lewat sela gigi, membuang muka dan berjalan menuju
sofa sialan duduk dengan tegak mengawasiku dengan tatapan penuh ejekan, seakan
cewek sialan itu sedang mengolokku, berdansa sepenuh hati diatas penderitaanku.
Yeah,
aku berusaha untuk duduk tegak tanpa bantuan jalang sialan itu saja sulit,
apalagi mengambil sendok sialan yang sedari tadi sudah ada di hadapanku. Oh
Tuhan! aku benar-benar kacau sekarang, merasa lemah untuk membungkukkan tubuhku
sendiri sangatlah menyakitkan, sangat sakit seakan luka bekas operasi ini robek
kembali. Aku menggigit bibirku untuk menahan ringisannya, tapi tidak bisa
ringisan keras lolos dari mulutku, Walker dengan sigap menghampiriku, penuh
dengan raut akan kecemasan.
Kecemasan
dan kekhawatiran yang terpeta jelas di wajahnya, dengan mulut yang sedikit
terbuka dan napas tersengal, tangannya menyentuh pundakku dan mengelusnya
dengan lembut.
“Berhentilah
bersikap berengsek!” Serunya keras.
Membuka
selimutku, dan memastikan tidak adanya luka robek dari perutku, dia memejamkan
mata sedetik dan menghela napas lega, kemudian menutupi tubuhku kembali dengan
selimut. Aku tidak pernah merasakan jika orang lain yang sangat khawatir
padaku, kecuali Mum. Kekhawatiran Walker sangat kentara, seperti kekhawatiran
Mum padaku.
Dia
mengangkat nampannya dan menyendokkan bubur ke depan mulutku, aku merasa
seperti bocah umur 5 tahun yang jatuh dari sepeda. “Kau tak perlu bersikap
seperti bajingan disaat kau dalam keadaan tak bisa melakukan apapun, cukup
dengan sikap yang baik. Aku akan menolongmu tanpa kau pinta. Berhentilah
bersikap seolah kau mampu dalam segala hal, karena keadaanmu sekarang tidak
memungkinkan untuk bersikap seperti itu.”
Dia
masih menyodorkan sendok itu ke depan mulutku, aku tidak suka diperlakukan
seperti ini. Tanganku mau mengambil sendok itu dari tangannya menginsyaratkan
kalau aku bisa menyuapkan bubur sialan ke dalam mulutku sendiri, dan Walker
langsung memberikan pelototan tajam, seolah ia yang mengatur segalanya.
Dia
mendorong sendok ke dalam mulutku dengan keras, membuat gigiku menyentuh
bibirku dengan keras. “Buka mulutmu.” Nadanya memerintah.
Astaga! aku benci cewek
ini. Dia pikir dia siapa.
Aku
tahu hal seperti ini tidak akan berakhir begitu saja, jika tak ada salah satu
dari kami yang mulai mengalah. Karena si arogan Walker ini berubah menjadi si
kepala batu-arogan Walker. Aku membuka mulutku, membiarkan dia melakukan hal
yang dia anggap benar. Menyuapiku, dan aku baru sadar, sejak kapan aku bisa
menurut pada cewek ini? Mungkin jika Joe ada disini, dia akan terbahak dengan
keras. Menertawaiku sampai matanya berair, melihatku dengan mudah diperintah
oleh seorang cewek, apalagi itu dia, si Walker.
Eloise
Walker, hanya dia cewek yang bisa menatapku dengan tatapan tegas-tanpa ada
sedikitpun takut. Rambutnya sangat lepek dan berantakan yang ia masih kuncir,
memakai baju yang sama seperti ia menemukanku, dengan noda bercak darah di atas
kemejanya yang kukira itu darahku.
Tunggu
sebentar, kenapa bajunya terdapat noda darahku? Apa yang cewek ini lakukan saat
aku tidak sadar?
Terlalu
banyak berpikir, aku tidak sadar akan kehadiran perawat yang menginterupsi.
Lalu Walker keluar dari kamar, hanya meninggalkanku dengan perawat itu.
Perawat
itu tersenyum dan memberikan suntikan ke dalam labu infusku. “Kau benar-benar
beruntung Mr. Barnes, pacarmu bisa melakukan RJP."
Apa-apaan perawat ini?
Dia menganggap Walker pacarku?
Aku
mengelak cepat, “Tidak, dia bukan pacarku. Kami hanya teman.”
Dia
mengerutkan dahinya, memperlihatkan raut kekecewaan. Kenapa dia harus terlihat
seperti itu?
“Ah…
begitu,” wajahnya berubah bersemu malu.
“Apa
kau tadi mengatakan tentang RJP? Siapa yang memberikanku RJP?”
“Gadis
yang tadi ada di dalam kamarmu,” setelah selesai memberikanku obat perawat itu
pergi keluar.
Jadi,
si Walker selain membawaku kemari ternyata ia juga menyelamatkan nyawaku dengan
melakukan RJP. Aku tidak pernah mengerti, apa yang sebenarnya cewek itu
lakukan? Maksudku kenapa dia harus ada disana dan menyelamatkanku, membuatku
merasa berhutang nyawa pada seseorang. Bagaimana jika dia tahu tentangku?
Bagaimana jika semua yang ia katakan padaku saat polisi menanyakanku itu juga
bohong? Bagaimana jika-
Aku
benci jika harus ada orang lain yang ikut terlibat dalam kehidupanku sekarang.
Aku
mengerang keras terkejut ternyata Walker sudah ada di depanku, bahkan tidak
mengetahui kapan ia masuk.
“Ada
apa? Apa lukamu terasa sakit lagi?” Dia bertanya padaku.
Aku
menggeleng, “Tidak, bukan itu. Aku hanya butuh ponselmu.”
Melihat
reaksinya sepertinya dia memiliki syarat lain sebelum memberikan ponselnya
padaku, dia memainkan kedua jarinya dan menimbang-nimbang. “Kau tahu, aku akan
meminjamkan ponselku jika kau menjawab beberapa pertanyaan-“
Aku
menghela napas, “Berhentilah bermain-main, Walker-“
“Hanya
jawab pertanyaanku.” Katanya tak sabaran.
“Kenapa
aku harus?”
“Kenapa
kau menolaknya! Ada apa sih denganmu, Barnes. Hanya jawab pertanyaan dariku dan
semuanya bakal selesai. Aku kan sudah bilang padamu untuk berhenti bersikap
berengsek-“ dia mengerling kesal padaku, memelototiku lagi dan itu membuatku
terkekeh.
Aku
menggeram agak keras, “Baiklah! Terserah.”
Kemudian
ia duduk disebelahku, kepalanya tertunduk kebawah bergerak-gerak resah di atas
kursi lalu berdeham dan menatapku lagi. Menatapku lekat-lekat. “Jadi, kenapa
kau bisa ditembaki?”
Terdiam
sejenak, aku sangat terkejut dengan gelombang emosi yang melanda. Tanpa
basa-basi cewek ini melakukan tujuannya, yang kukira itu adalah pertanyaan yang
ia pendam sejak ia menemukanku di malam itu. Menarik.
“Aku
tidak tahu,” jawabku santai.
Dia
menatapku kesal, “Rasanya tidak mungkin, apa kau yakin tidak berbuat salah
seperti mengajak adu jotos seorang preman
atau mafia, misalkan.”
Respons
itu membuat napasku tersendat, bahkan aku merasa napasku tertahan untuk
beberapa waktu kedepan karena pernyataannya barusan. “Aku tidak tahu.”
Walker
mengernyit dan aku mengejang di tempat, “Kenapa kau tidak tahu? Apa kau korban
atau tersangka? Apa kau melukai seseorang sebelumnya, jadi kau dikejar dan
ditembaki seperti itu karena orang itu balas dendam padamu.”
Yeah, mungkin kau benar
atau kau memang benar dengan semua hipotesismu, Walker. Tapi aku tidak mau
menjawabnya.
Bersikap
normal… tanpa ada raut yang mencurigakan, walaupun aku sudah menebak apa yang
ia pikirkan. Tapi tidak sejauh ini, dia terlibat terlalu jauh. “Aku memang
tidak tahu! Bisakah kau tidak bersikap menyebalkan sekali saja?”
Sekarang
jelas aku bisa membaca pikirannya, dia terlihat jengkel denganku. cowok tidak tahu diuntung katanya
begitu, memutar bola mata kurasa itu adalah hobinya. Dua hari bersama cewek ini
sudah membuatku tahu tingkah lakunya seperti apa. Tipikal yang harus
menyelesaikan masalah saat itu juga, mencari tahu sampai ke akarnya dan itu
sangat berbahaya untukku.
Tanpa
banyak omong ia langsung melempar ponsel padaku, dan aku mengambilnya dengan
tangan kiri yang masih bisa digunakan. Dia bangun dari duduk dan berjalan sampai
ke ambang pintu, menggaruk bagian belakang kepalanya, tentu saja dia tidak
keramas untuk dua hari atau mungkin lebih. Ternyata dia cewek yang cuek.
Sebelum ia membuka pintu Walker berbalik.
“Sebaiknya
kau telepon ibumu, bukan pacarmu.”
Aku
terkekeh, “pacarku cowok, kau tenang saja.”
Dia
memberengut menatapku jijik, “Wow, apa dia Joe?”
Aku
mengangkat kedua bahu, “Siapa tahu. Sebaiknya setelah aku menelepon dan
mengembalikan ponselmu, kau pulang ke rumah. Pasti orang tuamu cemas.”
Matanya
menyipit, kenapa apa aku salah ngomong
lagi? Raut wajahnya berubah lagi jadi melembut, dia menatapku dengan
tatapan paling manis kurasa untuk cewek menyebalkan seperti dia. Sepertinya
kata orang tua yang membuatnya diam
menatapku seperti itu.
Dia
mengembuskan napas pelan, mengangguk pelan dan menatapku lagi, aku merasa ia
memandang masuk ke dalam mataku. Mata amber itu lagi-lagi mengawasiku.
“Baiklah.
Jangan lupa siapkan jawaban terbaikmu pada polisi, Oh yeah dan kau bisa bilang
pada orang tuamu nanti untuk mengurusi administrasi rumah sakit, karena kemarin
aku yang menandatanginya sebagai walimu.”
“Baiklah
akan kutakan pada perawat nanti.”
Dia
mengangguk lagi, menekan daun pintu. Perasaanku tidak ingin dia pergi sebelum
aku mengatakan apapun, aku tidak mengerti tapi sejak kapan aku melibatkan semua
hal dengan perasaan. Astaga! aku benar-benar dibuat berantakan olehnya. Seakan
jika aku tidak mengatakannya merasa ada batu yang menyumbat paru-paruku, semua
yang tertahan seperti tidak baik untukku sekarang.
“Uhm,
Walker.”
Dia
berbalik menatapku lagi, “Yeah?” tanyanya skeptis.
Aku
membuka mulutku, tapi tak ada patah katapun yang keluar dari mulut sialan ini.
“Kalau kau pulang sebaiknya, kau keramas. Aku benci melihat cewek dengan rambut
lepek seperti itu.”
Wajahnya
memberengut, hidungnya mengerut. Astaga! Lihat ekspresi konnyolnya itu
sekarang, “Yeah. Aku akan keramas pakai 2 botol sampo sekaligus.” Katanya
malas, langsung menekan daun pintu dan keluar.
Sebenarnya bukan itu
yang mau kukatakan padamu Walker, aku hanya mau bilang Terima kasih, untuk
menyelamatkan nyawaku.
Komentar
Posting Komentar