COMPLICATED - CHAPTER 3

CHAPTER 3
20 Oktober 1999

Eloise Walker

P
erseus berlari dengan kencang dengan ekor yang terkibas menari diudara musim gugur, dia mengikik saat aku menarik tali kekang di kepalanya. Kurapatkan kedua kaki ke tubuh Perseus, kedua pahaku dirapatkan ke bawah pelana dan mengangkat bokong saat Perseus lari semakin cepat. Merasakan embusan angin sore menerpa wajahku di padang rumput, Kuda itu merasakan kesenangan tersendiri, dia mengikik riang terlebih lagi saat aku menungganginya.

Perseus adalah salah satu jenis kuda Arab yang aku sukai, yang kupilih dari sepuluh kuda yang berada di dalam Istal. Aku mulai jatuh cinta pada Perseus saat pertama kali aku mengikuti klub berkuda di tahun pertamaku di Almagest. Rambutnya berwarna hitam pekat dengan satu corak putih di kepalanya.

Kukendalikan tali kendali sesuai dengan irama kepala Perseus, maju dan mundur, kami menemukan belokkan dari lintasan. Aku berusaha tetap meluruskan tubuh dan menjaga keseimbangan, kuarahkan Perseus dan ia berbelok dengan sempurna. Melewati lima buah pagar rintangan dengan jarak sekitar 700 meter. Seolah ia tahu kapan kita berhenti, kuhentakkan kaki ke perut Perseus, ia mulai memelankan kecepatan berlari. Lama-lama ia mulai berjalan santai.

Xander menekan tombol pada stopwatch, menyunggingkan senyumannya saat melihat waktu yang kuciptakan barusan. Aku turun dengan memijakkan kakiku kepijakan kemudian meloncat.

Aku merenggangkan kedua tangan hingga tulangku berbunyi, “Jadi berapa menit?”

Dia menjulurkan tangannya memperlihatkan angka yang tertera di stopwatch itu. Aku menghela napas. “Yeah, lumayan. Lagi pula aku tidak akan mengikuti lomba tahun ini bukan?”

Aku menuntun Perseus untuk kembali kekandang dengan menarik tali yang sudah terpasang. Xander berjalan mengikutiku, kemudian mempercepat langkahnya hingga ia ada disebelahku.

“Yeah, kau harus fokus pada A level’s yang diadakan tahun depan.”

Aku menggedikan bahu, berusaha melepaskan sarung tangan kulit yang masih membungkus utuh kedua tanganku. Tapi tangan satunya lagi harus memegang tali tuntunan, jadi kuputuskan untuk meminta bantuan pada gigiku yang sedang nganggur. “Yeah, aku harus mendapatkan nilai bagus untuk masuk Cambridge.”

Dia menyipitkan mata, seolah penuh keraguan di dalam matanya. “Kukira kau akan ke Harvard. Kenapa kau memilih Cambridge?” Xander berhenti di depan gerbang Istal dan diam disana.

Kukira dia akan mengejeku karena tidak pantas masuk Cambridge. Aku memasukkan Perseus dengan dorongan yang sedikit lebih kuat, karena ia memberontak saat ia tahu kalau akan kukembalikan ke dalam kandang.

Kututup pintu kandang dan berjalan menghampiri Xander, “Tidak, karena menurutku Cambridge ada di Inggris, dan aku tidak bisa jauh dari Dad maupun Zac.”

Dia membuka gerbang Istal, membiarkanku berjalan duluan baru dirinya. “Rasanya tidak mungkin hanya karena alasan itu, kau tidak merantau untuk berkuliah.”

Aku menjetikkan jari dan mengedip genit padanya, “Yeah, karena kurasa cowok Inggris lebih hot ketimbang cowok Amerika.”

Dia tertawa, merangkul tubuhku erat. “Apa menurutmu aku termasuk cowok Inggris yang hot?

Aku balas tertawa, melepaskan rangkulannya yang lebih terkesan memelukku ketimbang rangkulan. “Badanmu,” aku menunjuk perutnya. “Kurang sixpack.”

Wajahnya memberengut dan aku tahu dia berkomat-kamit untuk menghitung dari sepuluh sampai satu untuk menangkapku dan menggandong lalu menceburkanku ke danau buatan yang jaraknya tak jauh dari Istal. Karena seminggu yang lalu Xander pernah melakukannya, dan aku tak akan membiarkan kejadian itu terjadi lagi.

Sebelum dia menyelesaikan hitungan mundur-bodohnya, aku langsung berbalik membelakanginya dan berlari sekencang mungkin, tidak mengucapkan Dah maupun beralik kebelakang hanya untuk memastikan dia mengejarku atau tidak. Aku berlari menuju gedung asrama mengabaikan peluh keringat yang menetes dari dahi menuju pipi.

Lari tidak kuhentikan sampai aku menemukan pintu asrama yang tertutup, tanpa tedeng aling-aling aku langsung mendorong pintu. Ruangan ini terasa lebih gelap atau memang sengaja digelapkan karena aku merasa tak bisa melihat apapun dengan jelas tanpa penerangan.

Kurasa belum semenit aku ada diruangan ini, suara gemuruh tepuk tangan bergema, teriakan, siulan, terdengar jelas ditelingaku, merasa dikeroyok. Kurasa banyak orang yang ada di ruangan santai sekarang, kupejamkan kedua mataku baru rasanya sedetik suara-suara gaib itu mulai memelan saat mereka menyalakan lampunya.

Dan suara menghilang, kubuka mataku perlahan dan sesuatu yang konyol telah terjadi. Aku berada di tengah-tengah kerumunan pemain Rugby dan pemandu sorak ber—rok mini. Aku menghela napas menyembunyikan perasaan dan mimik wajah malu sebisa mungkin dengan mengamati seluruh ruangan dengan detail, aku melihat ada tulisan di sebuah kertas berukuran A1 Happy Birthday Our Captain Aidan. Tanpa balon-balon norak yang biasanya meghiasi sudut dinding.

Aku berdecih, cowok itu lagi, Aidan. Sebenarnya aku tidak mengerti seberapa populer dia ketimbang si O’Neal. Aku bersyukur mereka tidak membuat pesta perayaan Ulang Tahun bocah umur 5 tahun.

Tapi, saat aku mengedarkan pandanganku ke sudut kanan disana ada sofa besar dan tiga buah kursi malas serta minuman yang kurasa itu botol bir dan coke penuh di atas meja dan nakas.

Coke bisa kutoleransi, karena aku meminumnya. Tapi bir? Bahkan, aku sepenuhnya tidak yakin kalau mereka sudah berumur dua puluh tahun, dan kartu identitas. Aku meragukan kalau mereka itu punya.

Belum aku membuka mulutku untuk protes, dan menghujani detensi dengan alasan botol bir, pintu dibelakangku mendadak terbuka. Bukannya aku berbalik untuk melihat siapa yang ada dibelakangku, melainkan berjalan mundur dan menabrak seseorang dan menginjak kakinya.

Sialan! Ini kejadian paling memalukan.

Masih dengan tatapan dingin aku berbalik dan lebih sialan lagi aku menemukan si cowok yang berulang tahun hari ini dan menginjak kakinya, tampangnya kelihatan sangat tidak suka. Dia menjulang tinggi tepat dihadapanku dengan jarak yang pendek, kurasa tinggi si Aidan ini mencapai 189 cm. Aku tahu karena aku membandingkan tingginya dengan si Johnson yang mencapai 190 cm.

Wow! aku baru menyadari kalau dia sangatlah tinggi. Dan aku merasa sangat pendek jika bersanding dengannya. Rasanya aku ingin cepat-cepat lari dari kejadian memalukan hari ini, tapi kakiku merasa terborgol, karena melihat botolan bir yang berserakan di atas meja. Jiwa Ketua Asrama terkutuk ini kembali hadir tanpa kupinta.

Cowok itu menatapku defensif dan aku mengangkat kepalaku lebih tinggi untuk menatap balik dirinya, seakan kami sedang mengikuti lomba paling lama bertatap-tatapan.

“Whoa!” Joe berseru kagum, memecahkan keheningan sekaligus adegan aneh ini. Aku langsung membalikkan badan, memunggungi Aidan lagi.

“Pesta kejutan tak berjalan dengan baik, rupanya. Tapi kalian masih punya bir, kan?” Kata Joe lagi.

Aku berdeham membersihkan kerongkongan, “Apakah kalian memiliki izin? Untuk bir itu?” Aku menyentakkan kepala ke arah botol bir yang masih memenuhi meja itu.

“Ayolah, Aillen sedang tidak ada.” Kata Jones merajuk.

“Lagi pula tidak ada salahnya jika kita bersenang-senang sedikit.” Yeah aku melihat Mulligan juga ikut bicara.q

Shaillen Paltrow maju kedepan dan dia sedang mengapit lengan cowok yang sangat aku kenal, dia berusaha menyembunyikan wajahnya dariku. “Ayolah, Walker. Kau jangan mempersulit kami, David saja mengizinkan dan ikut berpartisipasi. Masa kau tidak?”

Si cowok mata empat juga ternyata ikut berkomplot dengan mereka, percuma bila aku mengatakan tidak. Satu orang dengan akal sehat melawan kerumunan kera tak berotak.

Aku menyipitkan mataku, menatapnya sinis. David melihatku dengan tatapan mohon-ampun.

Baru saja aku akan membuka mulutku untuk adu argumen, Shaillen sudah memotongku duluan. “Jika ketahuan oleh si Aillen. Dia,” Cewek itu menunjuk David. “Akan bertanggung jawab atas dosa kami, kumohon, Eloise.” Dia memohon, menyatukan kedua tangannya.

Aku benci keadaan ini, apalagi saat dia yang bukan teman dekatku memanggil nama depan. Tapi jika sudah ada yang bertanggung jawab, walaupun aku sangat meragukannya karena adanya kamera pengawas.

Astaga! kamera pengawas.

“Bagaimana dengan kamera pengawas?” Tanyaku panik, menelaah semua sudut yang terpasang kamera pengawas. Ada dua buah.

Dia menghela napas tenang, dan mengedipkan sebelah mata. “Tenang saja, semuanya sudah kami atur.”

“Tapi aku tidak yakin-“

Dia menggeram, “Sudahlah, kubilang ini baik-baik saja dan percayakan pada kami.”

“Tapi.”

“Bisakah kau hanya bilang Ya. Karena Ya darimu sangatlah penting bitch.”

“Kau benar-benar terak! Baiklah terserah-terserah yang akan kalian lakukan, dan itu sama sekali bukan urusanku.” Aku menghentakkan kaki karena kesal. Kesal pada mereka semua. Terutama cewek sialan itu, seperti dia saja yang punya seluruh gedung ini.

Sorakan mereka terdengar sangat keras saat aku mengatakan kata sialan Ya. Seolah aku baru mereka baru saja memenangkan lotere,  Aku langsung beranjak pergi dari lantai bawah menuju ke atas, ke kamarku berusaha tak menghiraukan keonaran yang mereka buat. Saat aku baru menaiki satu anak tangga, seseorang memegang tanganku.

Aku sontak berbalik, “Calvaro, lepaskan aku.” Desisku.

Dia tersenyum dan itu bukan pertanda baik, “Kau tidak akan ikut pesta kami?” Tanyanya.

Aku memutar bola mata, “Kami? Kukira itu pesta Kalian, bukan Kami.”

Dia menyeringai kemudian tertawa, “Jika kau ingin ikut, maka tidak ada salahnya kau bergabung. Lagipula semua orang diundang, terutama kau. Ketua.”

Aku mendelik kesal, “Tidak, trims. Kau tidak perlu repot-repot, aku sangat tidak tertarik.”

“Benarkah?” Suaranya dibuat-buat.

Aku mendengus dan berteriak, “Yeah! Sangat! Jadi bisakah kau melepaskan tanganku?”


Dia terbahak keras, “Sebenarnya aku sudah melepaskan tanganmu, dari tadi bahkan sebelum kau berteriak, Ketua.” Dia tersenyum menggodaku.

Dan aku bersumpah melihat Barnes yang ada di belakang Calvaro dengan jarak yang cukup jauh memerhatikan kami berdua dan tertawa memamerkan giginya.

Berengsek! Calvaro sialan! Tim Rugby sialan! Kapten pemandu sorak sialan! Dan kau, Barnes sangat-sialan!

-0o0-

Aku menutup pintu rapat-rapat, melepaskan boots-ku, melepaskan kemeja melemparkannya kesembarang tempat lalu duduk di kursi belajar, mengacak rambutku dan menggeram.

“Kau ini kenapa?” Tak sadar jika Jillian ternyata sedang bersedekap dan berdiri di ambang pintu, entah selama apa.

Aku meraih sebotol minuman yang ada di atas nakas dan meminumnya sekaligus, “Mereka semua membuatku gila, Jill.”

Aku mengelap air yang menetes ke daguku dengan lengan, “Maksudku, coba lihat apa yang mereka lakukan dibawah. Berpesta.” Dia menaikkan sebelah alisnya.

“Bukan pesta masalahnya, tapi botolan bir adalah masalahnya. Bagaimana jika si Aillen sialan ternyata ada di dalam ruangannya sedang mengamati tingkah tolol mereka yang sudah keterlaluan. Bagaimana, jika-“

“Cukup, El. Harusnya kau minum lagi. Hentikan sikap paranoidmu.” Dia menghampiriku dengan sebuah kaus ditangannya.

“Aku tidak paranoid.” Kataku protes.

Dia menghela napas panjang, merasa lelah dengan ocehanku “Sebaiknya kau tidur, kau kurang mendapatkan tidur yang baik akhir-akhir ini.” Dia menepuk pundakku setelah memberikanku kaus.

Jillian kembali lagi keambang pintu, “Dan kau mau kemana?” tanyaku penasaran.

Dia tersenyum penuh arti, “Jangan bilang kau mau-“ Aku menggeleng cepat dan menatapnya penuh harap.

Dia menekan daun pintu dan membukanya lebar-lebar lalu diam disana, “Aku tidak akan lama, sungguh hanya ingin memastikan kalau Xander ada di ruang santai atau tidak.”

Kemudian ia menutup pintunya meninggalkanku sendirian di kamar. Semuanya tidak waras, mereka gila. Aku memutuskan untuk mematikan lampu nakas, dan memejamkan mataku untuk tidur.

Rasanya aku belum memejamkan mata untuk waktu yang lama, dan aku mendengar suara ketukkan pelan di pintu. Tapi tidak yakin, kurasa itu kamar sebelah. Yeah, karena jarak kamar kami dengan sebelah kamar sangatlah dekat atau mungkin bisa disebut satu dinding, jadi aku memutuskan untuk tidur lagi. Tapi suara ketukkan itu lama-lama menjadi gedoran yang cukup keras membuat dirimu seketika bangun.

Aku baru sadar ternyata masih memakai tank top, saat duduk di tepi ranjang dan meraba seluruh kasur untuk menemukan kemeja biru gelap yang terakhir kukenakan.

Aku membukakan pintu dan sangat terkejut, siapa yang ada di depanku saat ini. Bukan Jillian, bukan Xander apalagi Kellan.

Tapi ini Aidan.

Aku membelalakkan mataku, dia terlihat sangat berantakan. Rambutnya mencuat keatas seakan jarang bersisir, matanya merah. “Kenapa kau ada disini?” Tanyaku.

Dia hanya diam dan mengerang pelan, menundukkan kepalanya perlahan dan menjatuhkan kepundakku. Aku tersentak, otomatis tubuhku langsung terdorong kebelakang, satu tanganku menahan di ambang pintu dan tangan yang lainnya merangkul tubuhnya.

Astaga apa-apaan cowok ini! Aku dilema antara harus memasukkan cowok ini ke kamarku atau membiarkannya tergeletak di luar kamar. Aku sangat frustasi dibuatnya. Aku berharap Jillian ada disini sekarang.

Dia mulai mengoceh tak jelas, tubuhnya menekan tubuhku. Kini aku merasa sangat menempel dengannya. Aku memutuskan untuk menyeretnya masuk ke dalam kamar dan menutup pintu rapat-rapat sebelum ada yang salah paham karena melihat kami secara sepihak.

Kubaringkan tubuhnya ke atas kasurku, tak peduli ia akan merasa sakit atau tidak saat ia sudah kembali waras, sebab lebih tepatnya aku membantingkan tubuhnya ke kasur. Kakinya terjulur ke lantai hanya tubuh dan kepala yang ada di atas kasur, aku memerhatikan cowok ini. Apa yang menyebabkan dia semabuk ini.

Apa Aidan menikmati pesta perayaannya karena dia semabuk ini, atau Apa ia hanya memanfaatkan momen ini hanya untuk membuatnya mabuk-mabukan tanpa menikmati pesta ini, atau ia frustasi.

Dad pernah bilang padaku hanya dua hal yang membuatmu mabuk. Hal pertama, untuk bersenang-senang. Dan hal kedua, untuk membuatmu merasa senang, karena ada tekanan dalam diri.

Tapi pada Aidan aku tidak yakin untuk kedua hal itu.

Karena wajahnya tidak terlihat senang ataupun tertekan, dia selalu menampakkan ekspresi wajah dingin dengan tatapan mata menindas kepada semua orang yang dibencinya. Termasuk aku, karena dia selalu tersenyum dengan sudut bibir yang rendah. Meremehkanku. Menjahiliku seharian penuh jika dia ingin, seperti menempelkan permen karet bekas di atas bangku dengan sengaja, membuat surat ancaman palsu dikeluarkan dari Sekolah ini dan menyelipkannya di celah loker dengan tanda tangan palsu Kepala Sekolah, melakukan hal apapun yang ia suka dan membuatku marah akhir-akhir ini, semenjak cowok itu kembali ke Almagest. Dan masih banyak hal sialan lainnya yang ia lakukan.

Dan, aku membencinya.

Aku tidak menyukai cowok ini.

Dia malah tertidur, Ya Tuhan. Aku duduk dengan posisi menyamping, agak mencondongkan tubuhku untuk membangunkan dia. Kutepuk pipinya keras, “Hei bangun.”

Dia masih bergeming.

“Bangunlah keparat.” Kataku lagi sembari menepukkan tanganku ke pipinya lebih keras.

Aku tidak yakin ia mabuk, ini terlihat mengantuk ketimbang mabuk. Kuputuskan untuk melirik jam dinding di atas meja belajar Jillian.

Pukul 22.00. Aku mendengus jengkel, bangun dari kasur dan membawa segelas air sengaja mencipratkan air ke wajahnya.

Cowok itu bergerak-gerak gelisah dan sontak terduduk dikasur dengan mata yang masih terpejam. Menarik satu tanganku satu hentakkan aku langsung ada didepannya satu gelas jatuh ke kasur beserta air yang membasahi seprainya, membuat jarak yang sangat pendek untuk kami berdua.

Sekarang aku bisa melihat wajahnya dengan jelas, matanya yang terpejam tidak bisa mengintimidasi lagi, hidungnya yang mancung tidak terlalu berlebihan. Proporsi wajah yang pas.

Bagaimana bisa Tuhan menciptakan sesuatu kelebihan diatas kekurangan yang ia miliki.

Dan harus kuakui, dia lebih tampan dari Kellan. Dan membuat jantungku berdebar hanya dengan posisi seperti ini.

Aku menelan ludahku sendiri, “Lepas, sialan.” Merontakan kedua tanganku yang akhirnya ia genggam.

Dia membuka matanya, menatapku dengan tatapan sayu, dari matanya aku merasakan bahwa ia ada di bawah tekanan. “Kau punya mata yang bagus, Walker.” Katanya parau.

“Kau mabuk, sebaiknya kau membasuh mukamu.” Aku menarik tanganku yang masih digenggam olehnya.

Dia menggeleng pelan, wajahnya memberengut. “Matamu amber, itu aneh. Kau punya mata yang tidak dimiliki orang lain. Kau harus mengikat rambutmu karena aku tak suka bila rambutmu menghalangi wajahmu.”

Aku bisa merasakan embusan napas berbau bir tiap ia bicara dan tubuhnya dan harum tubuhnya beraroma kayu. Mencoba mengabaikan ocehannya, walaupun ocehannya membuatku terkesiap.

Dia melepaskan kedua tanganku, tapi aku terlalu bodoh untuk diam dan tidak beranjak dari posisi ini. Barnes memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh Kellan sekalipun, tapi aku tidak tahu itu apa.

Tapi aku masih menuruti akal sehat, kutarik tangannya hingga tubuhnya terangkat. Namun ia berdiri terhuyung-huyung, “Aku membenci Colombo dan semua klannya.” Dia meracau.

Sorot matanya berubah dengan sorot penuh kebencian dan amarah, Aku tidak tahu pembicaraan ini akan kemana, tapi setidaknya aku berusaha untuk menenangkannya dengan membelai punggung Barnes dengan kaku. “Kau mabuk Barnes, sebaiknya aku antar kau ke kamar.”

Dia diam tidak bergerak, dia mempertahankan tatapannya sebentar padaku kemudian memejamkan matanya dan tubuhnya merosot terduduk di tepi ranjang.

Dan saat inilah yang paling tepat, saat dia mulai kelelahan dimana titik ini aku lebih mudah membawanya ke kamar.

-0o0-

Aidan Barnes

Selama di Itali, aku tidak pernah merasakan rasanya hidup sebagai remaja pada umumnya. Sekolah di Sekolah umum, bergerombol dan membuat persekutuan menindas anak-anak culun, ataupun menggoda para gadis Itali untuk sekadar bermesraan. Tidak sempat kulakukan, atau memang tidak pernah ada kesempatan untuk melakukan itu semua.

Dad selalu menekankan padaku untuk bekerja ekstra keras untuk melanjutkan pekerjaan keluarga alih-alih mengerjakan hal dan bekerja untuk hal yang sama sekali aku tidak pernah suka, tapi aku harus melakukannya. Semua ini demi kepentingan klan-ku, masa depanku. Masa depan yang sudah terbaca tanpa perlu lagi ditebak atau diduga olehku sendiri dan oleh Joe.

Keterpaksaan yang harus kau jalani. Dad yang bilang begitu.

Aku merasakan tangan seseorang di pundakku, kemudian aku menepisnya masih dengan mata terpejam.

“Kau harus bangun,” Katanya masih mengangguku dengan tangan yang menggerayangi tubuhku.

“Bisakah kau diam, Joe!” Teriakku keras.

Dia berhasil mengalihkan perhatianku, aku langsung duduk dan membenarkan kancing kemeja.

Joe mendesah berat, dia menunduk lemas. “Ada apa denganmu? Kenapa kau tidak sarapan pagi ini?”

Aku mendelik, menatapnya jengkel. “Aku hanya malas.”

Dia menggeleng cepat dan bersedekap didepanku, “Tidak, aku tahu ini tentang Itali, ini tentang ayahmu.” Seolah ia mendapat momen opname, “Ah.. ayahmu atau The Pharmacist yang membuatmu berantakan seperti ini.”

Aku menggertakan gigi, “Sejak aku lahir hidupku sudah berantakan, Joe.” Mendengar kataku barusan, aku baru sadar ternyata itu kedengarannya miris sekali.

Dia mengembuskan napas, mulai merebahkan diri di atas ranjang menggunakan dua tangannya sebagai bantalan. “Yeah, kau benar. Hidup kita sudah berantakan sejak dilahirkan mate. Dari mulai kita masih bocah, remaja busuk, dan sekarang hampir menginjak 18 tahun. Aku belum pernah diperlakukan sebagai anak seutuhnya oleh mereka. Bahkan saat umurku 5 tahun Dad mengajariku menggunakan senapan dan menembak hewan buruan. Bukankan itu orang tua yang tidak waras?”

Aku mengangguk paham akan perkataan Joe, dia benar. Orang tua kami benar-benar tidak waras.

“Bahkan masa depan yang tidak bisa kita rubah sekenanya. Jadi, apa yang dikatakan para petinggi kepadamu terutama Colombo padamu?” Joe mengungkitnya lagi, sebenarnya aku ingin menutup mulut rapat-rapat, tapi rasanya akan percuma bila ia akan terus bicara dimanapun tentang ini.

Akhirnya kuputuskan untuk membicarakan tentang Colombo,  disaat Mathius Colombo salah satu Capo menghubungiku dua hari yang lalu tepat di saat ulang tahunku, ketika pesta itu dimulai. Dia mengatakan betapa tidak bergunanya aku dibandingkan sepupuku Robert, begitu banyak kekuranganku, menganggapku lemah, memandangku dengan sebelah mata, tidak pernah menghargai atas semua hal yang kulakukan semata-mata hanya karena perintahnya. Aku benci diperintah, tapi aku masih menghargai ayahku karena Colombo merupakan koleganya. Salah satu orang kepercayaan dari Organisasi kami.

Aku tidak perlu penghargaan darinya, yang aku butuhkan pengakuan, aku ingin diakui oleh dunia hitam itu. Dunia yang sudah dikerjakan oleh kedua keluarga besar dari orang tuaku. Dunia yang sebenarnya tidak pernah aku inginkan.

Joe hanya menanggapiku dengan helaan napas, aku lebih suka dia yang versi ini, tidak banyak bicara, hanya mendengarkan. Itu yang kubutuhkan pendengar. Walaupun aku juga suka dengan Joe yang banyak omong, dia salah satu teman dekatku yang satu nasib. Nasib yang mengerikan dan berharap mendapat kesempatan kedua.

“Kau tahu, aku memang sudah mengira bahwa di Itali itu lebih mengerikan ketimbang di Inggris. Maksudku, aku bersyukur kalau aku bukan anak pertama yang harus menjadi penerus, walaupun aku tidak bisa mengubah kenyataan untuk tidak ikut terlibat dalam organisasi sialan ini, mate. Dan aku turut berduka cita atas kau menjadi sosok yang terpilih.” Dia menunjukkan ekspresi iba dan turut menyesal.

Aku tertawa, dia sepenuhnya benar. Aku melirik jam di tangan “Ini sudah jam 9 dan kau melewatkan sarapan pagimu itu.”

Dia terbangun lalu berdiri memutariku untuk mengambil ransel di ranjangnya, “Tidak, jangan sok peduli dengan sarapan pagiku. Aku sekarang tahu kenapa kau mengabaikan sarapan akhir-akhir ini.” Wajahnya berubah jadi kecut.

Aku menaikkan sebelah alisku, menatapnya skeptis.

“Karena makanannya tidak enak.” Dia mengerutkan hidungnya, “Astaga! Kau harus mencoba seladanya, rasanya seperti rumput mentah. Menjijikan.” Dia berjalan melewatiku dan membuka pintu.

Joe melambaikan tangannya padaku, “Ayolah, aku tahu guru mata pelajaran pertamamu, si tua penggoda Mrs. Steele,” aku terkekeh mendengarnya, Joe dan semua leluconnya.

Aku menutup pintu dan memasukan lubang kunci untuk mengunci pintu kamar. Dan kami berjalan menuju kelas.

-0o0-

Dikelas sama sekali tidak ada hal yang menarik, semuanya sama kami mengeluarkan buku, alat tulis dan tatapan datar tanpa semangat, tidak ingin memerhatikan suatu subjek hidup yang sedang membeo di depan sana dengan kacamata tebal, rambut sanggul, pakaian kuno. Yang benar-benar tidak enak untuk dilihat oleh cowok seumuran denganku.

Kecuali Walker, entah kenapa, Joe ada benarnya, dia sedikit menarik, bila dibandingkan dengan Mrs. Steele. Pandangannya masih kedepan menopang dagu dengan satu tangan, terlihat dari sudut matanya dia bosan untuk mendengarkan sama seperti murid lainnya. Satu tangannya yang lain memutarkan pensil di kedua jarinya. Entah apa yang membuatnya bosan, karena ia terlalu pintar jadi, dia tidak perlu lagi mengetahui materi ini dari guru karena ia sudah tahu lebih awal, atau karena dia sama seperti yang lainnya, tidak punya ketertarikan penuh dalam pelajaran ini.

Tapi dia bukan anak yang bodoh, itu yang mereka katakan setiap di ruang ganti. Yang mereka katakan kalau Eloise Walker pantas menjadi Ketua Asrama karena kepintaran yang ia miliki. Tapi sejauh ini aku tidak pernah melihatnya menginjakkan kaki menuju pintu perpustakaan.

Dia menoleh kearahku, mata kami bertemu. Mata itu lagi. Dia menyipit dan langsung membuang muka seketika dengan kegugupan yang ada, aku merasa pernah mendapatkan ekspresi seperti tadi, darinya. Tapi, bahkan aku tidak ingat. Aku tidak ingat sama sekali pernah berkontak mata dengannya se-intens itu, tapi aku pernah merasakannya.

Ini gila.

Sejak kapan aku jadi memikirkan si arogan Walker.

Aku berjalan di koridor terkadang dari mereka menyapaku seperti biasanya seperti Johnson hari ini, dia sedang menyandarkan punggungnya di loker dan merangkul bahu cewek rambut merah tembaga yang kukira cewek barunya, Jessica. Aku berhenti sebentar untuk sekadar basa-basi karena ia mengingatkanku pada latihan besok, kemudian aku berbelok untuk mengambil beberapa buku yang akan kugunakan untuk pelajaran ketiga hari ini.

Kubuka pintu loker dan mengambil beberapa barang yang kubutuhkan dan memasukannya ke dalam ransel lalu kututup kembali dan menguncinya.

Tadinya, aku akan beranjak dari sini. Lagi-lagi sosok itu yang membuatku berhenti bergerak, cewek itu lagi. Dia dengan rambut ikat kuncir kudanya sedang membawa setumpuk alat laboratorium, yang kukira itu adalah gelas ukur, satu set tabung reaksi beserta buku-buku tebal. Ia tampak mengerucutkan bibirnya, merasa tidak suka diperintah, dan yang kukira ia sedang diperintah oleh salah satu guru kimia. Aku ingat hari ini aku belum mengerjai si Walker. Aku hanya suka mengerjai dirinya, membuatnya jengkel, marah tanpa alasan, menganggunya merupakan hiburan tersendiri untuku. Tak perlu ada alasan untuk mengerjainya.

Semakin lama dia mendekat, aku bersiap untuk menjulurkan satu kakiku, berusaha menyandungnya agar ia terjatuh.

Aku hitung mundur. Tiga.

Dua.

Satu.

Suara pecahan alat lab kimia hancur berkeping-keping, dia jatuh ada dibawahku dengan buku tebal yang berserakan di lantai.

Bloody Hell!” Umpatnya keras.

Aku masih berdiri, melihat ia mulai mengambil pecahan beling yang terdekat. “Sayang sekali, kedua matamu yang sehat bahkan tidak bisa dipergunakan dengan baik.”

Dia memutarkan bola mata tak memberikan respons.

Aku berlutut menghadapnya dan menjulurkan tangan, “Butuh bantuan, Ketua?”

Dia langsung menepis tanganku, mengelapkan kedua tangan ke roknya. “Tidak usah berlagak sok baik, berengsek. Aku tahu kau yang melakukannya.”

Aku tertawa lalu menatapnya iba, “Kenapa kau merasa aku yang melakukannya, kenapa kau tidak salahkan mata dan kakimu karena mereka tidak berfungsi dengan baik.”

Dia mengangkat kepalanya untuk memelototiku, “Karena hanya ada kau disini, di lorong ini. Dan setan sialan mana lagi yang berani mengerjaiku seperti ini, selain kau Barnes sialan.” Serunya. Menekankan suara pada dua kata terakhir.

Kuakui gadis ini memang sangat menarik, dia cewek pertama yang berani berkata kasar padaku dengan suara sekeras itu. “Bukankah seorang murid teladan, panutan para murid kelas satu itu tidak boleh menggunakan kata-kata kasar?”

Dia mendengus, dan menatapku galak. “Tidak ada pengecualian untukmu, kau pantas diberi kata kasar.”

Aku tidak akan pernah keberatan bila ia menganggapku cowok menyebalkan-jahat sekalipun, karena apa yang membuatnya kesal sama sekali tidak akan membuatku menjadi keberatan.

Aku diam memerhatikan dirinya beringsut merangkak ke tiga loker yang ada di sebrang sana mengambil pecahan kaca yang masih ada. Roknya yang diatas lutut itu tersingkap dan memperlihatkan jelas pahanya walaupun ia memakai stocking hitam.

Aku menelan ludahku napasku tersekat, aku tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya hanya melihat paha cewek karena roknya tersingkap dan itupun memakai stocking membuat hawa panas di tubuhku berdesir, dan efeknya membuatku harus menghirup napas banyak. Aku banyak tidur dengan cewek tapi paha yang terbungkus stocking hitam tidak membuatku bergairah. Aku berasumsi dia kelihatan sengaja membuatku seperti ini. Aku tidak ingin menjadi orang berengsek, tapi aku senang menganggunya.

Jadi ini hot yang dimaksud oleh Joe, Travis dan yang lainnya.

Aku bersiul.

Dia membalikan tubuhnya dan berdiri, Walker memberikan pelototan tajam padaku merasa harga dirinya dilecehkan, dia berjalan kearahku dengan raut wajah yang jijik melihatku.

Sepersekian detik, Walker sudah mendorongku ke loker dan mencengkram kerah kemeja. Dia terlihat sangat pendek, kurasa tingginya hanya mencapai bahuku membuatku harus lebih menunduk saat ia mencengkram kerah kemeja semakin kuat, membuatku harus sejajar dengannya. Aku merasa pernah bertatapan dengannya sedekat ini, dia memliiki bentuk bibir yang bagus tidak terlalu tipis dan tidak terlalu tebal berwarna merah alami tanpa memakai polesan apapun, bentuk wajah lonjong dengan bentuk rahang yang tegas, dengan pipi yang bersemu kemerahan. Dan matanya lagi, sekarang matanya lebih menggelap karena ada sekelebat kemarahan di dalamnya.

“Apa yang kau lihat, huh Keparat?”

Bukannya aku melepaskan diri dari cengkraman cewek ini, karena aku bisa melakukannya dengan sangat mudah. Tapi aku menikmati saat ia dekat denganku, menghabiskan jarak yang ada.

Aku menaikkan sebelah alis, “Maksudmu, apa yang ada didalam rok-mu?” Aku terkekeh, “Maaf saja aku sama sekali tidak tertarik.”

“Kau berengsek!”

“Jadi, kau lebih suka aku memerhatikannya-“

“tarik kata-katamu, hapus semua yang ada dipikiranmu sekarang, pervert! Aku bukan jalang yang biasa kau tiduri.” Walker mendengus, dia berkata ketus.

“Jadi, kau tipe jalang yang mana?”

Aku tahu dia kesal dan jengkel, dan mungkin juga marah, karena aku melihat ekspresi wajahnya yang penuh dengan emosi dan pipinya sudah semerah kepiting rebus. “go to the hell, arsehole!”

“Sebenarnya kau ini marah padaku? Begitu, maumu apa? aku tidak bisa mengulang waktu yang tadi untuk tidak melihat rok-“

Shut the fuck up your filthy mouth.” Dia berseru keras.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                
“Kau menyumpah? Astaga mulutmu itu berbisa.”

Dia mendelik, “Enyahlah, Barnes.”

“Tenang saja, aku juga tidak mau lama-lama ada disini, apalagi harus berdekatan denganmu.”

Sesaat aku mengatakan itu, ekspresi wajahnya berubah, melembut, tidak ada lagi ketegangan urat syaraf yang menonjol di pelipisnya. Dia tersenyum tapi tidak melepaskan cengkraman kerah kemejaku.

Fuck! Umpatku keras.

Aku jatuh tersungkur, menahan rasa sakit bersandar di loker.

Dia menendang perutku mengenai ulu hati menggunakan lututnya. Dia berlutut  memunguti buku-buku tebal yang sudah menguning di tiap halamannya dan berjalan menjauhiku. Tanpa mengatakan sepatah kata apapun.

Beberapa fakta yang kuketahui tentang Walker:
1.     Dia satu-satunya cewek yang berani memberikanku detensi, selain Mum.
2.     Dia satu-satunya cewek yang berani mendorongku ke dinding dan mencengkram kerah kemeja.
3.     Dia satu-satunya cewek yang berani menendang perutku.

Aku tertawa-tertawa sekeras mungkin, bagaimana bisa aku tunduk dan diremehkan oleh satu cewek arogan sesialan dia.


Demi Tuhan! Aku bangun dan menendang loker beberapa kali lemari besi itu sampai terlihat penyok. 
“Eloise Walker aku akan mengirimmu ke neraka!”

Aku berteriak, berteriak sekeras mungkin-sekuat tenaga, berharap dia mendengar teriakanku tadi. Tidak perduli apa pendiri yayasan ini yang telah mati, bangkit dari kuburnya! Aku tidak perduli.


Komentar